Minggu, 01 Februari 2015

Sampai Detik Ini



06:45 am. Aku berdiri didepan cermin oval setengah badan sambil meraipkan seragam baruku. Sejenak, aku terhanyut dalam kedaan tak percaya bahwa sekarang aku tengah memakai seragam putih abu-abu yang notabene adalah kisah-kisah terindah dimasa sekolah. Apa iya? Aku tak begitu yakin. Masa Sd ku adalah masa terbaik menurutku. Ah sudahlah. Mari kita liat saja bagaimana kedepannya. And now, i'm very ready depart for my new school. Hi. I'm coming.

Disini aku tak tinggal dengan orangtuaku, aku diasingkan oleh mereka. Katanya mereka tengah mengajarkanku untuk hidup mandiri agar dewasa nanti aku bisa melakukan semuanya sendiri tanpa harus merepotkan mereka lagi yang kini telah rentan untuk terkena osteoporosis ataupun encok yang membuat mereka suka memegang pinggul ketika encok menyerang. Bila ingin membuatku mandiri, kenapa tidak sekalian saja asingkan aku di hutan belantara, atau dipinggir sungai yang banyak ikan, atau di pinggir pantai yang indah, atau kirimkan aku ke Mars agar aku bisa bersosialisasi dengan alien-alien disana dengan baik. Aku pernah mengatakan hal itu tapi ibu hanya menjawab "belajarlah mandiri dengan oranglain disekitarmu, bila sudah bisa ibu akan kirimkan kau dihutan belantara agar bertemu George." Aku hanya diam tertunduk lalu menangis.Ibuku benar. Aku malu sudah banyak berbicara dibanding ibu. Maafkan aku ibu.

Aku ingat saat ibu akan tinggalkanku sendiri disini bersama orang asing yang setiap hari selalu membuatku rindu akan rumah dan semua tentang isi dan penghuninya. Aku menitikan airmata. Airmataku jatuh seperti airterjun Niagara yang deras dan banyak. Aku tak kuat bila harus berpisah 3tahun lamanya dengan mereka. Airmata ibuku pun begitu. Beliau tak henti-hentinya mencium dan memelukku. Dan semua kejadian dramatis itu disaksikan oleh orang banyak di pelabuhan tempat ibuku berangkat nanti. Ah, malu rasanya saat berada dikeadaan seperti acara Termehek-mehek yang mempertemukan ibu dan anak yang tidak bertemu bertahun-tahun, padahal kami baru saja akan berpisah bertahun-tahun. Tapi aku tak peduli. biarkan saja mereka menertawakanku yang sedang menangis seperti anak tak diberi uang jajan. Aku terus menikmati detik-detik terakhirku bersama ibu untuk 3tahun kedepan. Selamat jalan ibu, bapak, Iqbal, Indah, Ilham. Hati-hati disana. Take care yourself :'( :'( . Sampai ketemu disana ketika aku lulus.

Kapal pelni itu mulai lepas sandar dari dermaga itu. Aku tak pernah melepas pandanganku dari kapal itu. aku terus melambaikan tangan dan airmataku pun terus mengucur deras. Hingga temanku menarikku lambat agar aku berhenti tenggelam dalam kesedihan itu. Aku menurut. Kau tau, saat itu ku seperti petualang yang kompasnya jatuh dan kini bingung harus kemana. Rasanya tak kuat bila harus berpisah pulau dengan mereka. Keluarga tercinta.

Efek pelukan dan kecupan berkali-kali ibu terus melekat sampai detik ini. Dan itulah terakhir kali aku mendapatkan perlakukan seperti itu. Ibu, kapan lagi kita seperti itu? Kapan lagi kita berpelukan lama sambil kau usap manja kepala ini? Kapan lagi kita menangis bersama dalam keadaan sedih ataupun senang? Lama ssekali aku tak merasakannya. Tapi semua bekasnya masih tersimpan dengan rapi. Bahkan saat aku menulis blog inipun. Mataku berkaca. Aku mengingat kejadian paling menyedihkan itu ibu. aku berterimakasih kepada Tuhan karena telah pernah membuatku berpisah dengan ibu. Aku bersyukur. Berkat itu kasih sayang yang sempat menipis 0,001 % kini kembali utuh. Terimakasih. Terimakasih dan terimakasih =) =) O-)





"Untuk sosok ibuku yang paling aku sayang. Untuk kejadian diJanuari 2011. Terimakasih. Semuanya masih terasa utuh sampai detik ini. Bahkan sampai aku kembali membuka blog ini dan membacanya ulang. I Love U So Much Mom :* :* "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar