Aku sudah lama tinggal bersama nenek selama berabad-abad hingga gigi nenek yang tadi dua kini utuh lagi. Iya begitu. Jadi aku hapal betul bagaimana sifat nenek lebih dari nenek tau. Aku sayang nenek :* (bagi duit dong nek). Dulu aku ingat, nenek suka memberiku uang 2.000 rupiah bila aku merengek minta dibelikan karoppo (kerupuk) andalan. Nenek begitu sayang padaku. Dulu. Tapi semenjak nenek punya banyak cucu dan sudah tak ABG lagi, kini nenekku seperti broken home. Dia perokok, hilang arah, make ganja-shabu shabu, suka balapan, ikut clubbing dan memulai karir pikun. Ah nenekku. Maaf bila hal ini terjadi padamu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu.
"Cu bagi duit dong. Lagi kere nih. Gak ada duit buat beli rokok." (wajah memelas keriput dongo).
"Nenek yang mau beli, aku yang kasih nenek uang?" Aku pergi meninggalkan nenek sendiri dalam lamunannya.
"Cuuu, jangan tinggalin nenek lah!"
"APA SUSAHNYA CARI UANG. AMBIL KALENG DUDUK DIPINGGIR JALAN!!" Gak kalah heboh.
"Huh, kamu jahat. Nenek kutuk kamu jadi uang Rp 10.000."
"Hah? Untuk apaan nek?" Tanyaku penasaran.
"Buat beli rokok lah cu." Dan awanpun mulai gelap,petir mulai menyambar-nyambar, kemudian nenek mengambil jurus byakugan dan mengutukku jadi uang Rp 10.000. Tadaaa. Uang Rp 10.000 buat rokok nenek. Maacih cu, ene' ayang ucu :* .
Tapi aku bersyukur punya nenek seperti beliau, yah walau sudah mengutukku, mencampakkanku tapi karena dia pelupa jadi aku mudah bermain politik ekonomi sosial budaya bersamanya.
"Nenek sayang. Bagi duit dong." rengekku manja.
"Eh cu, kamu siapa?"
"Ini aku, iyaa aku."
"Cucu keberapa aku yah? Gak ingat cu." Suara nenek kini lebih mirip nenek sihir 300tahun.
"Aku cucu nenek yang ke 125."
"oh kamu. Ini. Nenek punya 2.000. Gunakan sebaik mungkin yah. Jangan kamu sia-siakan pemberian nenek ini yah cu." Nenek nangis.
"iya nenek." Nangis terus lari. Tkut ikut gila.
Sosok nenekku adalah sosok nenek yang sudah nenek-nenek. Aku begitu mengaguminya. Bayangkan saja sudah bakat pelupa terus prestasi dalam ketulian pun diraihnya dengan sangat bagus. Aku bangga. Kamu adalah andalanku. Iyaa kamu nek.
"Nek, dipanggil bibi." Aku berkata sopan.
"Iya, sudah tadi pagi."
"Nenek dipanggil tuh."
"Ada tuh dibawah meja cu."
"NENEK!"
"iyaa cu. kenapa?" Nenek melihatku dengan senyum polos.
"Nenek dipanggil sama bibi." Aku berusaha sabar.
"hmm, yaudah kamu pergi ajha."
"NENEEEK!!"
"IYAA CU!!"
"BERANTEM YUUK!!"
"AYOOO." *boxing. And the winner is The Nenek Toulie. Yeyeye. Nenek memang terbaik.
Hari berganti hari hingga bulan berganti bintang dua dan semua bakat nenek makin parah dan membuatku merasa antara bahagia dan sedih. Aku bahagia karena semakin dalam bakat nenek maka semakin banyak pula peluangku untuk menertawakannya saat bakatnya ia tunjukkan dengan cuma-cuma. Hahaha. Maafkan aku nek, aku cucu yang terlalu baik hingga melakukan hal sebodoh itu. Misalnya saja..
"Assalamualaikum bu aji." sapa tetanggaku
"iyaa, ada apa?"
"Ini ada undangan pernikahan dari sebelah. Jangan lupa datang. Diharapkan sekali bu."
"Ohiya, ini undangan apa yah?"
"INI UNDAngan pernikahan ibu." iyaa, sepertinya tetanggaku mulai emosi pemirsaa.
"ha? apa? Angan pengen nikah? kamu mau nikah lagi? Ckckck." Nenek menggeleng-gelengkan kepalanya tanda prihatin.
"UNDANGAN PERNIKAHAN INI IBU. JANGAN LUPA DATANG. TOLONG AJAK SAMA KELUARGA IBU."
"OOOOHHH.... Permisi, suaranya dikasih biasa saja yah. Telinga saya masih berfungsi dengan baik." Nene sok peka.
"IYAA IBU. WAALAIKUMSALAM." Si ibu berlalu dengan loncat pagar sambil memacungkan jempolnya kearah bawah tanda cemen. Hahaha. Gokiil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar