Jumat, 13 Februari 2015

Liver

Untuk malam dengan rintik berirama tak pernah senada. Airsuci ini jatuh begitu saja ketika ku ingat wanita sabar itu harus berbaring lemah sambil terus mengucapkan istighfar. Tak rela rasanya. Aku selalu bertanya pada langit. Adilkah bila wanita sebaik dia untuk menderita seperti itu? Adilkah bila setiap waktu dia harus mengeluh, mengelus dada dan mecoba tetap sabar? Adilkah bila kejadian seperti itu harus ku saksikan setiap hari? Sungguh, aku tak sanggup Tuhan. Aku selalu ingin bertanya pada-Mu. Kenapa? Mengapa?.
Kesana kemari mencari sesuatu yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Entah sudah berapa banyak semangat yang ia dapatkan, berapa banyak biaya yang ia keluarkan, berapa banyak jarak yang ia tempuh, berapa banyak tempat ia datangi. Namun yang ia bawa pulang hanyalah perutnya yang semakin hari semakin besar. Tuhan. Apa salahnya? Kurangkah bila tak Engkau karuniakan ia keturunan? Kurangkah bila sang ibu yang paling ia sayangi meninggalkannya disaat ia hanya sendiri? Kurangkah saat suaminya memutuskan untuk meninggalkannya? Kurangkah itu Tuhan? Kurangkah? Langit, sampaikan itu pada Tuhan. Bantu aku langit. Sebab, aku tak pernah mendapat jawaban atas pertanyaanku.
Dibalik semua keluhan, aku tersenyum ketika tersadar bahwa masih banyak orang yang peduli dengannya. Mereka dating satu persatu untuk memberinya semangat. Banyak peluang untuk sembuh. Bersabarlah. Mungkin sedikit lagi langkahmu menuju pintu kelegaan. Aku siap mendampingimu. Mengiringimu dengan syair-syair doaku. Membantumu untuk berdiri. Merangkulmu berjalan. Walau tak banyak. Setidaknya, doaku yang paling bekerja. Tangis dalam setiap doamu dapat aku dengarkan. Dan saat itulah aku aminkan semua doamu. Amin. Amin. Amin.
Kau wanita yang sesat kesabaran juga ujian. Saat senja itu, saat kau sudah tak tahan akan semuanya, sekali lagi kau putuskan untuk berobat. Aku hanya diam dan berdoa dalam hati, “Tuhan, sembuhkan dia. Angkat penyakitnya. Berikan dia kebahagiaan. Kesabaran. Tuhan, sembuhkan dia.” Air hangat itu kembali jatuh membasahi pipiku. Aku menyembunyikannya.


“Sabarlah. Kita tau, Tuhan adil. Tetap tawakkal. LIVER itu akan segera Tuhan angkat ketika kau lulus melewatinya. Ibu, begitu ku panggilkan beliau. Iya, beliau sudah ku anggap sebagai ibu keduaku. Tetaplah sabar. Tuhaan. Sembuhkan dia. Kembalikan senyum yang telah lama hilang itu. Amin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar