Untuk malam dengan rintik
berirama tak pernah senada. Airsuci ini jatuh begitu saja ketika ku ingat
wanita sabar itu harus berbaring lemah sambil terus mengucapkan istighfar. Tak
rela rasanya. Aku selalu bertanya pada langit. Adilkah bila wanita sebaik dia
untuk menderita seperti itu? Adilkah bila setiap waktu dia harus mengeluh,
mengelus dada dan mecoba tetap sabar? Adilkah bila kejadian seperti itu harus
ku saksikan setiap hari? Sungguh, aku tak sanggup Tuhan. Aku selalu ingin
bertanya pada-Mu. Kenapa? Mengapa?.
Kesana kemari mencari sesuatu
yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Entah sudah berapa banyak semangat yang
ia dapatkan, berapa banyak biaya yang ia keluarkan, berapa banyak jarak yang ia
tempuh, berapa banyak tempat ia datangi. Namun yang ia bawa pulang hanyalah
perutnya yang semakin hari semakin besar. Tuhan. Apa salahnya? Kurangkah bila
tak Engkau karuniakan ia keturunan? Kurangkah bila sang ibu yang paling ia
sayangi meninggalkannya disaat ia hanya sendiri? Kurangkah saat suaminya
memutuskan untuk meninggalkannya? Kurangkah itu Tuhan? Kurangkah? Langit,
sampaikan itu pada Tuhan. Bantu aku langit. Sebab, aku tak pernah mendapat
jawaban atas pertanyaanku.
Dibalik semua keluhan, aku
tersenyum ketika tersadar bahwa masih banyak orang yang peduli dengannya.
Mereka dating satu persatu untuk memberinya semangat. Banyak peluang untuk
sembuh. Bersabarlah. Mungkin sedikit lagi langkahmu menuju pintu kelegaan. Aku
siap mendampingimu. Mengiringimu dengan syair-syair doaku. Membantumu untuk
berdiri. Merangkulmu berjalan. Walau tak banyak. Setidaknya, doaku yang paling
bekerja. Tangis dalam setiap doamu dapat aku dengarkan. Dan saat itulah aku
aminkan semua doamu. Amin. Amin. Amin.
Kau wanita yang sesat kesabaran
juga ujian. Saat senja itu, saat kau sudah tak tahan akan semuanya, sekali lagi
kau putuskan untuk berobat. Aku hanya diam dan berdoa dalam hati, “Tuhan,
sembuhkan dia. Angkat penyakitnya. Berikan dia kebahagiaan. Kesabaran. Tuhan,
sembuhkan dia.” Air hangat itu kembali jatuh membasahi pipiku. Aku menyembunyikannya.
“Sabarlah. Kita tau, Tuhan adil.
Tetap tawakkal. LIVER itu akan segera Tuhan angkat ketika kau lulus
melewatinya. Ibu, begitu ku panggilkan beliau. Iya, beliau sudah ku anggap
sebagai ibu keduaku. Tetaplah sabar. Tuhaan. Sembuhkan dia. Kembalikan senyum
yang telah lama hilang itu. Amin J
“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar