Inikah sendiri itu?
Aku sedang betul-betul merasa
sendiri malam ini. Entah mengapa, panas ditubuhku semakin membuat hatiku
berkecamuk bahwa tak ada yang dating disaat aku benar-benar butuh kedatangan
seseorang. Entah dari mama, adik, tante terlebih kamu. Tapi kembali aku
kembalikan positif thinking itu. Mungkin inilah yang harus aku hadapi. Harus
sakit ketika semua yang biasa memperhatikanku hilang begitu saja.
Inikah sendiri itu?
Aku tak tau mengapa air hangat
itu tiba-tiba jatuh dipelupuk mataku. Berendam disana hingga membuat mataku
semakin merasa panas. Mama masuk mengendap-ngendap dikamarku, ingin melihat apa
yang tengah aku perbuat. Dan kau tau. Dia hanya melirik lalu pergi setelah tau
aku tengah membaca novel. Dia tidak bertanya “kamu kenapa?, “pergi makan sana?”
atau tidak, kenapa dengan badanmu? Kenapa kau bungkus dengan selimut?” Mama
sama sekali tak berkata seperti itu. Aku
menangis.
Inikah sendiri itu lang?
Sepertinya untuk hidupku saat ini
aku memang benar-benar tengah berada didunia novel yang penuh hayalan bodoh dan
kehidupan yang lebay dan dramatis. Aku sendiri. Terbaring lemah dengan selimut,
dengan perut kosong sedari siang juga kedua betisku yang juga tak kalah sakit.
Aku sengaja sedari pagi untuk tidak melihat hp-ku. Aku berharap ketika aku
pulang sekolah, ada pesan singkat darimu. Dan aku akan merasa senang. Tapi
hingga malam berganti dan suara jangkrik mulai bernyanyi lagu ejekan buatku, kamu
benar-benar tak ada. Kamu hilang menurutku, walaupun abang itu berkata kau
tengah asyik bermain PlayStation yang selalu membuat kamu kalah. Aku menangis
dalam hati. Kenapa tidak kau peduli pada pesanku sedikitpun. Setidaknya CM atau
telpon atau apalah agar hatiku yang berkecamuk sejak kemarin bisa sedikit
jinak. Terimakasih untuk menambah kesakitanku malam ini kamu J
Inikah sendiri itu langi?
Aku bertanya padamu langit. Inikah sendiri itu? Muungkin. Karena kini aku
mengerti mengapa kau sering menurunkan sekumpulan titik-titik air yang deras
ketika orang telah terlelap, kini aku tau mengapa kau suka memamerkan sang
terang ketika ada awan yang bisa menutupinya, kini akupun mengerti kenapa
disetiap malam-malam tertentu kau slalu hadirkan kerlap-kerlip ribuan meteor yang
jauh juga sinar rembulan dengan cahaya redupnya , kini aku mengerti semuanya
langit.kau sengaja melakukan hal itu agar semua penghuni pasanganmu-bumi bisa
mengagumimu. Meskipun tidak semuanya. Kuarasa untuk malam ini kita adalah
senasib J .
Inikah sendiri itu,langit?
Haruskah aku menurunkan rintik-rintik hujan
itu dari mataku? Percuma, semua takkan bisa melihat karena aku sendiri.
Haruskah ku pamer semua kerlipan bintang dan bulan? Percuma, aku tak punya.
Bilapun ku punya mungkin sama saja karena aku sendiri. Haruskah ku tampakkan si
terangku yang akan menyilaukan mata-mata penuh belek itu? Percuma, dia
menghilang. Dunia kesendirianku kini benar-benar gelap tanpa kehadirannya dan
aku sendiri. Langiiiitttt!!!!! Tolong aku!!! Hanya kau yang mampu menolongku.
Minta tolonglah kepada pemilikmu, aku sekarang malu. Aku terlalu sering meminta
bantuan langsung kepada-Nya.
Langit, bantu aku! Aku
benar-benar sendiri saat ini. Benar-benar sakit, benar-benar membutuhkan
siapapun, benar-benar ketakutan dan benar-benar merasa terbuang L
“untuk kesendirianku malam ini, terimakasih kau hadir .
setidaknya aku tak benar-benar merasa kosong saat ini tanpa mereka yang
benar-benar aku butuhkan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar