Rabu, 25 Februari 2015

Inikah Sendiri Itu


Inikah sendiri itu?
Aku sedang betul-betul merasa sendiri malam ini. Entah mengapa, panas ditubuhku semakin membuat hatiku berkecamuk bahwa tak ada yang dating disaat aku benar-benar butuh kedatangan seseorang. Entah dari mama, adik, tante terlebih kamu. Tapi kembali aku kembalikan positif thinking itu. Mungkin inilah yang harus aku hadapi. Harus sakit ketika semua yang biasa memperhatikanku hilang begitu saja.
Inikah sendiri itu?
Aku tak tau mengapa air hangat itu tiba-tiba jatuh dipelupuk mataku. Berendam disana hingga membuat mataku semakin merasa panas. Mama masuk mengendap-ngendap dikamarku, ingin melihat apa yang tengah aku perbuat. Dan kau tau. Dia hanya melirik lalu pergi setelah tau aku tengah membaca novel. Dia tidak bertanya “kamu kenapa?, “pergi makan sana?” atau tidak, kenapa dengan badanmu? Kenapa kau bungkus dengan selimut?” Mama sama sekali tak berkata seperti  itu. Aku menangis.
Inikah sendiri itu lang?
Sepertinya untuk hidupku saat ini aku memang benar-benar tengah berada didunia novel yang penuh hayalan bodoh dan kehidupan yang lebay dan dramatis. Aku sendiri. Terbaring lemah dengan selimut, dengan perut kosong sedari siang juga kedua betisku yang juga tak kalah sakit. Aku sengaja sedari pagi untuk tidak melihat hp-ku. Aku berharap ketika aku pulang sekolah, ada pesan singkat darimu. Dan aku akan merasa senang. Tapi hingga malam berganti dan suara jangkrik mulai bernyanyi lagu ejekan buatku, kamu benar-benar tak ada. Kamu hilang menurutku, walaupun abang itu berkata kau tengah asyik bermain PlayStation yang selalu membuat kamu kalah. Aku menangis dalam hati. Kenapa tidak kau peduli pada pesanku sedikitpun. Setidaknya CM atau telpon atau apalah agar hatiku yang berkecamuk sejak kemarin bisa sedikit jinak. Terimakasih untuk menambah kesakitanku malam ini kamu J
Inikah sendiri itu langi?
Aku bertanya padamu langit.  Inikah sendiri itu? Muungkin. Karena kini aku mengerti mengapa kau sering menurunkan sekumpulan titik-titik air yang deras ketika orang telah terlelap, kini aku tau mengapa kau suka memamerkan sang terang ketika ada awan yang bisa menutupinya, kini akupun mengerti kenapa disetiap malam-malam tertentu kau slalu hadirkan kerlap-kerlip ribuan meteor yang jauh juga sinar rembulan dengan cahaya redupnya , kini aku mengerti semuanya langit.kau sengaja melakukan hal itu agar semua penghuni pasanganmu-bumi bisa mengagumimu. Meskipun tidak semuanya. Kuarasa untuk malam ini kita adalah senasib J .
Inikah sendiri itu,langit?
 Haruskah aku menurunkan rintik-rintik hujan itu dari mataku? Percuma, semua takkan bisa melihat karena aku sendiri. Haruskah ku pamer semua kerlipan bintang dan bulan? Percuma, aku tak punya. Bilapun ku punya mungkin sama saja karena aku sendiri. Haruskah ku tampakkan si terangku yang akan menyilaukan mata-mata penuh belek itu? Percuma, dia menghilang. Dunia kesendirianku kini benar-benar gelap tanpa kehadirannya dan aku sendiri. Langiiiitttt!!!!! Tolong aku!!! Hanya kau yang mampu menolongku. Minta tolonglah kepada pemilikmu, aku sekarang malu. Aku terlalu sering meminta bantuan langsung kepada-Nya.
Langit, bantu aku! Aku benar-benar sendiri saat ini. Benar-benar sakit, benar-benar membutuhkan siapapun, benar-benar ketakutan dan benar-benar merasa terbuang L



“untuk kesendirianku malam ini, terimakasih kau hadir . setidaknya aku tak benar-benar merasa kosong saat ini tanpa mereka yang benar-benar aku butuhkan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar