Hari ini rumahku
kedatangan seorang kakek tua yang notabene adalah orang pintar, iya pintar.
Rencananya beliau akan mengobati tanteku yang lagi sakit. Tapi saying, beliau
telat datangnya, tante udah berobat ketempat lain.
“Yaah, kakek sih
pake acara telat. Tuh kan. Tante udah keburu pergi.”
“maaf cu, ditengah
jalan saat kesini, kakek jumpa fans dulu!”
“*greget. AMBIL AKU
TUHAAAAN.”
Akhirnya sikakek
pintar duduk ditemani oleh kakekku. Cie cie cie, duduknya samaan. Mukanya juga
sama. Jodoh kali. Cieeee. Aku gak pernah berhenti tertawa saat mereka berdua
ngobrol. Pake bahasa bugis yang kurang aku paham, tapi gaya bicara keduanya
lucu. Si kakek pintar telinganya rada terganggu, kemasukan bis waktu
diperjalanan tadi, makanya kakek mesti main teriak-teriak kayak ngajak
berantem. (sabar kek, sabar. Ini ujian). Dan karena lelah akhirnya kakek
memukul si kakek pintar sambil teriak histeris.
“KAMU YANG TULI,
TRUS AKU YANG MESTI NGOBROL PAKE TERIAK SAMA KAMU???? CAPEEEK BEGOOOO!!!” kata
kakek naik pitam.
“I LOVE YOU.” Si
kakek membalas dengan santai.
Hahaha, tuh kan!
Lucu. Aku tertawa lagi karena hal itu. Karena tertawaku sangat merdu dan selalu
jadi pusat perhatian,akhirnya aku dipanggil sama sikakek. “mampus gue. Tamatlah
gue.” Dalam hati aku berdoa semoga hanya disuruh ambilkan minum.
“hmm mata kamu aneh
cu.” Rupanya kakek mulai menerawang aku. Sial. Kena deh!
Aku hanya diam. Dan
terus diam. Lalu memegang pelupuk mataku. Oh my god. Masih ada beleknya. Shit!
Malu-maluin.
“dari mata kamu,
kayaknya banyak orang yang tidak suka sama kamu. Iya kamuu!” begitu kata mama
setelah menerjemahkan bahasa bugis si kakek ke bahasa ndonesia.
Alis aku naik. Aku
hanya tersenyum.
“hmm kamu juga tidak
konsisten. Selalu menyukai orang yang berbeda-beda. Gonta ganti.” Lanjut mama
dengan serius.
Sekali lagi aku
hanya tersenyum, namun sesaat wajah mama mulai sedih.
“mama kenapa?”
“apa benar yang
dikatakan kakek?”
“mana aku tahu.
Yaudahlah. Setiap orang kan punya sisi baik dan buruknya.” Kataku sok dewasa.
“cieee pesan moral.”
Sambung mama.
Sialan tuh kakek.
Mau menjatuhkan nama baikku didepan mama. Udah salah, besar lagi. Pake acara
kasih ramuan ke mataku. Isinya air sama kencur. Pediis begooo! Gara-gara kakek
aku, aku harus menceritakan panjang lebar bahwa apa yang kakek katakana adalah
salah. Mungkin memang ada yang tidak menyukaiku, karena sesuatu. Tapi aku gak
peduli. Terserah mereka lah. Itu hak mereka. Hidupku tentangku bukan tentang
mereka. J
“Makasih kakek
pintar yang udah pengetahuan aku nambah lagi hari ini. Info aku buat kalian,
air diisi kencur trus dimasukin kemata itu ternyata pedis rasanya. Pedisnya tuh
dimataaa. jangan diitiru. Adegan berbahaya!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar