Minggu, 01 Mei 2016

Sebuah Pembiaran

Sunday, on April 25 2016 at 06:38 PM
Aku tertarik kembali membaca tulisan-tulisanku yang lalu sesaat setelah aku mengingatmu yang kala itu tersenyum penuh arti yang tidak ku pahami saat mendapati kembali tulisanku. Aku memulainya dengan tulisan tentangmu. Sungguh, hon. Aku menertawai diriku sendiri. Aku begitu malu dengan apa yang aku tulis. Aku merasa jijik mendapati diriku yang begitu mengagumi dirimu. Aku malu tertangkap basah karena memiliki perasaan yang berlebihan kepadamu oleh mu melalui tulisanku. Terkadang, saat melihatmu tersenyum membaca tulisanku aku berharap kau bisa sedikit merubah perasaanmu terhadapku. Aku berharap kau bisa menyadari sedikit perasaanku. Aku tidak mengharapkan banyak, namun bila kau bisa menyadari dengan banyak maka aku akan begitu bersyukur. Hahaha *LOL.
Hingga kini, aku masih menerka-nerka tentang bagaimana perasaanmu terhadapku. Adakah? Sedikitkah? Banyakkah? Entahlah. Namun kemungkinan ketiga tidak mungkin terjadi, sebab bila banyak, kau tidak mungkin memiliki wanita lain yang membuatmu tersenyum saat membalas chatting, tidak mungkin ada nama-nama wanita lain yang harus aku cemburui dan curigai. Hahaha. Kadang aku begitu bodoh menghadapimu yang terlalu pintar membodohiku yang memang bodoh. Spontanitas yang terjadi saat kau membicarakan perselingkuhan saat itu ialah pikiranku tepat tertuju pada ibu. Masalalu keluargaku yang kelam yang sempat membuatku membenci sosok lelaki yang dicintai oleh ibu, sedikit banyak memengaruhi bagaimana sikapku menghadapi pengkhianatan dalam suatu hubungan. Bahkan untuk persahabatan. Apalagi hubungan vitalku dengan lawan jenis. Aakkhh aku seperti akan gila dan ingin bunuh diri.Aku akui, aku terlanjur menaruh hampir seluruh rasaku padamu. Aku akui, keputusanku bisa saja menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Aku yang masih belum tahu pasti bagaimana perasaanmu berani-beraninya mengambil keputusan bodoh seperti itu. bagaimana bila akhirnya kau hanya memanfaatkanku? Bagaimana bila kau mempermainkanku? Bahkan mengkhianatiku? Hahaha. I’m really a fucker girl. Maafkan aku yang berpikir seperti itu. Tidak ada akibat tanpa sebab, right? Hukum kausalitas berlaku untuk hal apa saja; dalam dunia. Apalagi untuk hubungan yang kemungkinan jodohnya masih diambang 50:50.
Kau ingat ketika kau menanyakanku bahwa penyebab aku masih betah denganmu? Bertahan denganmu selama enam bulan. Aku akan membocorkan jawabanku padamu disini. Melalui media putih ini. Untuk pertanyaanmu itu, aku memiliki dua jawaban. Pertama, aku masih ingin mengenalmu, masih banyak pertanyaan yang perlu aku utarakan padamu dan perlu kau jawab. Kedua,aku memilki banyak pengharapan terhadapmu. Aku berharap di esok hari yang entah kapan kau bisa berubah seperti dirimu yang dulu, seperti yang kau ceritakan padaku bagaimana dirimu sebelum mengenal wanita, aku berharap kau bisa berubah menjadi lelaki tampan yang cuek dengan begitu banyak wanita yang mengagumimu, bersikap sewajarnya kepada mereka yang menyukaimu. Aku akui, menjadi tampan dan terkenal itu terbilang keren. Namun bila kau ladeni beberapa diantara mereka yang menyukaimu, aku merasa ingin tertawa di depanmu sayang. Kau terlihat begitu tidak keren sayang. Aku bahkan telah menyinggungmu beberapa kali dengan mimic senyum picikku. Aku berharap kau akan menjadi sosok seperti itu esok hari yang entah kapan. Aku pun berharap kau bisa menatap dan menempatkanku sebagai satu-satunya wanitamu walaupun aku bodoh, seperti sebagaimana aku menatap dan memperlakukanmu sebagai satu-satunya lelakiku.  Dan aku bersyukur kehebatan akal manusia yang mampu mencipatakan Microsoft Word ini bisa membantuku meluapkan beberapa emosi yang tidak mampu aku realisasikan secara langsung.
Aku yakin, ketika sekali lagi ku buka tulisanku ini aku akan kembali menertawai diriku. Aku akan malu karena pernah menulis halaman ini. Aku akan jijik dengan pembiaran sikapku yang berlebihan mengenai hal seperti ini. Hahaha. Akibat keseringan menonton drama melankolis.   




 *Aku selalu mengingat kalimatmu yang satu ini. “kalau sampai kau mengkhianatiku, aku akan memutuskan hubungan kita tanpa perlu kupikir dua kali. Akan kau lihat bagaimana pembalasanku”. Kalimat itu membuatku menelan ludahku beberapa kali. And we can see, who is the backbiter between we are. Sadar atau tidak, kau telah setengah menuju kearah itu. and I can see. I know for sure, hon*

Minggu, 17 April 2016

I'm Apologize, Hon!!

Langit begitu gelap ketika kita tengah bercakap dalam chattingan. Aku merasa begitu senang bila kita seperti ini. tengah percakapan itu, muncul chatting salah satu teman SMAku. Tiba-tiba dia mengajakku keluar dan akan langsung menuju kerumah. Aku belum makan dan mandi. Seketika, bayangmu muncul dengan segala amarahmu ketika tahu hal seperti ini. Baru saja aku akan mengatakan pada temanku bahwa aku tidak bisa menyiyakan ajakannya, dia sudah membalas lagi chattingku sebelumnya dengan mengatakan, "gue udah didepan". Lantas, apa yang harus aku lakukan? Tidak sopan bila ku menolak ajakannya dengan cahtting sedang dia sudah didepan rumah. Aku mencoba menjelaskannya dulu padamu, namun tidak kau gubris sama sekali. kau elakkan semua penjelasan yang kau anggap alasan yang ku buat-buat agar bisa kau izinkan pergi dengan temanku itu. Setelah itu, aku pun melangkahkan kaki keluar dan mencoba memberitahukan temanku bahwa aku tidak bisa, namun dia hanya mereponnya dengan tertawa karena alasanku. Dia hanya mengatakan, "ayolah, gue udah jauh-jauh nih!!" . Lalu aku bisa apa sayang? Bukannya aku tak memilihmu, hanya saja keadaan saat itu benar-benar tidak memungkinkan untuk ku tolak ajakan temanku.

Perasaanku begitu gelisah selama perjalanan pulang, aku hanya 30 menit diluar tapi aku merasa seperti berjam-jam. Aku terus memikirkan bagaimana sikapmu saat marah. Untungnya temanku pun buru-buru sehingga tidak sempat mengantarku pulang. Namun tetap saja, cepat atau lamanya aku diluar kamu akan tetap sama dengan amarahmu yang begitu menyakiti perasaan. Aku tahu, kau pasti lebih sakit hati dibanding aku. Kau pasti merasa diabaikan karena aku lebih memilih temanku yang sudah didepan rumah ketimbang laranganmu untuk keluar bersama teman-teman lelakiku.

Aku selalu ingat apa yang kamu katakan waktu itu. Bagaimana kata murahan itu muncul dengan mudahnya dari mulutku. Mataku seketika memanas saat itu. Aku tak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Tak pernah sekalipun. Hanya kamu yang seperti itu. Baru kamu. Namun keadaanku tadi tidak memungkinkan sayang. Seandainya kamu diposisiku, apa kamu akan menolak ajakan temanmu yang udah nunggu lama didepan rumah kamu? apa kamu akan seperti itu? Bila tidak, berarti kita tak sama.

Sejenak pun aku berpikir, bahwa aku egois dan tak berperasaan. Aku lebih memilih teman dibanding pasanganku sendiri. Aku tidak menghargai perasaanmu. Aku begitu jahat membuatmu tidak menjadi pilihanku. Maafkan aku. Maafkan aku. Kau menamparku dengan kalimat pedasmu, kau mampu menyadarkanku bahwa aku seorang wanita yang sangat egois untuk kamu miliki. Aku tidak pernah merasa sangat bersalah seperti ini kepada seseorang. Biasanya, bila melakukan kesalahan, yang aku pikir hanya meminta maaf. Setelahnya tidak lagi kupikirkan, bagaimana respon dan apa jawabannya tidak kupikir lagi. Tapi, tidak ku lakukan hal itu padamu. Aku begitu takut kau tidak akan memaafkanku, tidak ada sedikitpun terlintas dibenakku bahwa ini akan baik-baik saja. Aku terus berpikir bahwa ini akan menjadi masalah besar, memakan waktu yang sangat lama, mengganggu konsentrasi dan emosiku, juga mengganggu pernapasanku.

Dadaku sesak ketika isi chatting kita tidak lagi berisi. Kosong. Tiba-tiba saja oksigen sangat sulit masuk di paru-paruku. Mataku memanas menahan tangis akan amarahmu. Sungguh! Sekali lagi. Ini sikap yang menjijikkan yang pernah aku lakukan. Aku seperti kehilangan negara. Mengapa harus begitu sakit? Kan aku yang salah! How could it be like this? Why I cry? Why my chest feel sick? Why? Oh Hon, i'm aplogize. Is it too late to say sorry, huh? I hope i'm not late.

Jumat, 08 April 2016

Tentang Rasa

Kamis, 24 Maret 2016. 08:15 PM
Tepat disaat sehari setelah film paling ditunggu Superman VS Batman : Dawn Of Justice dirilis diseluruh bioskop Indonesia dan tentu saja aku tidak akan ketinggalan. Aku sengaja kembali menarik jari-jariku untuk mencoba mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan merangkainya dengan hati-hati hingga tak ada satu jenis perasaan pun yang tertinggal. Mungkin akan baik bila ku ungkapkan satu per satu bah materi yang akan ku presentasikan kepada diriku di esok hari nanti.
SAKIT
Lima huruf pertama yang sangat mengawali perasaanku. Aku merasa sakit saat melihat isi handphonemu tadi. Aku merasa sakit saat tahu ada namamu di salah satu status teman medsosmu. Aku sakit saat tahu kau seperti berpikir ketika mereka (wanita) yang mungkin penggemarmu menanyakan sedang bersama siapa kau saat ini (saat bersamaku tentunya). Aku merasa sakit saat tahu jawaban yang kamu beri harus kamu tanyakan dulu padaku, tentu saja sayang semuanya ku serahkan padamu. Ku serahkan padamu eksistensiku yang entah kau anggap apa. Pengganggu? Hantu? Pelampiasmu? Patung? Ahhh entahlah. Aku kembali merasa sakit ketika memikirkan posisiku terhadapmu. Saat ini aku bertanya, apa hanya aku yang merasa bahwa aku istimewa untukmu? Apa hanya aku? Apa kau memperlakukanku seperti itu disaat hanya ada kita? Kita berdua? Mengistimewakanku? Seolah aku satu-satunya. Oh sayang, perasaanku begitu sakit saat ini. Aku tak tahu harus menceritakannya kepada siapa dan dimana. Bisa kau beriku saran? Saran yang paling ampuh sayang! Tolong!
BINGUNG
Itu perasaanku selanjutnya. Entah harus seperti apa sikapku padamu. Menurutmu aku harus bagaimana? Oh aku lupa sayang, pertanyaanku seperti itu takkan pernah kau jawab walau ku minta dengan berlutut sekalipun. Kau tahu sayang, kadang aku seperti manusia tanpa arah ketika denganmu. Tak tahu harus apa. Entah harus ku percaya atau tidak pada perkataanmu tadi yang tidak menyukai angka “satu”. Satu pacar. Satu gebetan. Satu selingkuhan. Satu istri. Satu handphone. Dan satu lainnya. Kau pasti melihat jelas bagaimana responku tadi, kan? Aku memalingkan wajah lalu diam tanpa memikirkan apa-apa selain bertanya pada diriku sendiri, “aku harus apa?, percayakah?”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Bagiku, semua yang kamu katakan adalah benar kecuali yang buruk bagiku dan bagimu. Pahami sajalah. Saat perasaan ini tengah memacu perasaanku, aku merasa seperti ada yang panas di mataku saat ku beranikan diri untuk bertanya padamu kebenaran apa yang kamu katakana barusan tentang “satu”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Aku ingin mendiamimu, ingin menunjukkan kesakitan hatiku saat tahu hal itu, tapi aku pun tak ingin melihatmu sedih karenaku. Tidakkah aku egois ketika harus ku prioritaskan perasaan sakitku yang mungkin saja berlebihan didepanmu? Tidakkah? Jawab sayang. Aku membutuhkannya.
KESAL
Maaf bila aku kesal padamu. Namun sungguh kekesalanku lebih dominan kepada diriku sendiri. Kamu hanya memperoleh kesal level pertamaku. Kesal saat kau pasang wajah tak berdosamu. Seolah yang kau lakukan tidak terlalu salah. What? Tidak terlalu salah? Atau bahkan tidak salah sama sekali. Mungkin saja. Aku kesal saat suasana hatiku tengah terbakar, kamu malah asyik dengan handphonemu, lagi. Bahkan kau tertawa. Kau tertawa sayang, saat didepanku. Didepanku yang tengah tak enak hati. Aku kesal padamu. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Aku kesal memberanikan diri untuk melihat chattingmu dengan mereka penggemarmu. Aku kesal bertanya banyak soal “satu” itu. aku kesal pada diriku sendiri yang tak mampu terus bersikap baik padamu. Aku kesal. Aku kesal. Tolong aku, sayang.
?????
Bila saja dalam ketikan ini bisa ku gunakan tanda capslock untuk tanda Tanya itu, mungkin akan kugunakan sayang. Aku tak tahu mengapa kau seperti itu? apa itu kepribadianmu? Menebar pesona dimana-mana sedang aku tak pernah kau pamer pesonamu. Hanya aku saja yang terpesona terhadapmu. Kau memberlakukan mereka dengan baik dan sangat baik. kau bercanda, tertawa, hingga merayu mereka. Sedang aku? Apa yang ku dapat? Amarahmu. Kerasmu. Egomu. Tak mau kalah mu. Dan segalanya yang membuatku merasa menjadi pasanganmu yang tak pernah membahagiakanmu. Aku mohon sayang, bila memang aku hadir hanya sebagai bonekamu, katakan. Bila memang aku hadir hanya pelampiasmu, katakan. Bila memang aku hadir hanya untuk mengimbangi kebahagiaanmu untuk mereka dengan membuatmu sedih, katakana. Katakan saja sayang! Takkala aku sudah terlanjur merasa seperti ini. Terlanjur basah oleh rasa sakit yang selalu ku pendam sendiri. Tak apa sayang. Lagipula hanya aku yang merasakannya. Bila memang menyakitiku adalah kesenanganmu, lakukan sayang. Aku percaya kau akan berubah suatu saat. Satu yang aku  percaya. Kau akan berubah. Karena hidup selalu tentang sebab akibat.

*Ingin ku ceritakan semuanya padamu. Perasaanku. Sakitku. Bimbangku Ingin ku bacakan padamu. Bila mau, baca saja sendiri. Aku siap malu.*

Rabu, 06 Januari 2016

Tuan Cerewet II

Jauh sebelum kau menjadi partnerku, tuan Cerewet...Aku sungguh tidak menyangka bahwa hari yang sangat aku tunggu benar-benar menghampiriku dengan sukacita. Aku bingung harus bagaimana menyikapi hal ini. Rasa bahagiaku meletup-letup tanpa henti. Aku terus menatap layar handphone ku melihat nama yang tertera disana. Nyata kah ini? Dia kah itu? Dia kah orang yang ku harap itu? Kenapa bisa? Begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari kepalaku. Mereka siap melompat menyerangku. bahagiaku tak terkira lagi untuk beberapa menit didepan layar handphoneku. Namanya menghipnotisku beberapa saat. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti ini. Ini lebih menyenangkan dari mendapatkan tiket 5SOS. Percayalah! Saat itu, aku begitu bahagia. Terlihat sangat berlebihan. Karenamu. Salahkan dirimu.Inilah jawaban dari beberapa doaku yang ku panjatkan pada pemilik malam. Dia sepertinya begitu mengerti dengan kekagumanku terhadapmu. Dia tau bagaimana sikapku ketika aku tau kau tengah berada didekatku. Dia begitu mengertiku tuan cerewetku. Dan aku yakin inilah awal aku bisa mengenalmu dengan baik. Aku yakin itu. kau tau tuan, ini seperti ketiban duren di saat yang ku tunggu-tunggu. Dan kesempatan ini takkan ku lewatkan. Hanya saja aku ingin menikmati lebih lama melihat namamu di beranda invite ku.Hari-hari yang ku lewati semakin indah saja sejak kita menjadi teman. Wah, kita teman sekarang. Ini kebanggaan untuk diriku. Aku yakin ketika kau membaca tulisan dramatis ini kau akan mengklaimku sangat berlebihan. Bahkan bisa saja kau menjadi ilfeel denganku. Dan itu akan merusak nama baikku didepanmu. Oleh karena itu, tulisan dramatis ini takkan ku biarkan siapapun termasuk kau untuk membacanya, tuan. Akan ku sembunyikan sendiri kebahagiaanku di tempat teraman. Dengan kunci yang akan ku buang di semak-semak. Cari saja bila ingin. Aku hanya akan tertawa sambil membungkam mulutku dengan tangan kananku. Aku jamin takkan ada seorang pun tahu akan hal ini. Aku bisa jamin, karena aku telah membuat kesepakatan kepada Tuhan agar menjaga rahasiaku. Kau tau, Tuhan sangat bisa diandalkan. Begitu pun dengan semua rasa sedihku. Aku menyembunyikannya. It’s like a random. Just I and my God know it.Dan kau tau aku baru saja memberitahu mu salah satu rahasia terbesarku tuan cerewet. Ini semua salahmu tuan. Yah, ini salahmu. Kau membuatku terlalu bahagia hingga aku melupakan bahwa status kita hanya sebagai teman. Ah, aku ceroboh. Tapi sudahlah, I don’t care about it. I just happiness. Tuan cerewet. Terimakasih banyak. Karena mu kini, aku jadi menyukai drama korea seperti yang banyak tertera didalam laptop mu. J

Selasa, 22 Desember 2015

My Partner

Untuk yang kesekian kalinya napasku begitu panjang terhela setelah beberapa sekon yang lalu ku hirup ooksigen sebagai kebutuhanku. Helaan napasku begitu panjang setiap membaca chatting orang itu. dia kembali lagi dengan gaya tuntutannya yang membuat siapapun yang benar akan menjadi salah karenanya. Hari-hari yang kami habiskan selalu dengan cekcok mulut yang akan reda apabila telah bertatap muka secara langsung. Yah seperti itulah kami. Dua makhluk abstrak yang disatukan karena kesesuaian roh.
Sering aku berjumpa anonym yang bersua “bila dekat bertengkar, bila jauh pun rindu”. Setiap mereka yang mendengarkan hal ini pasti akan mengangguk sambil tersenyum tanda bahwa anonym itu sama seperti apa yang terjadi padanya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kami. Dua abstrak yang aneh. Kami melakukan sebaliknya. Bila dekat rindu, bila jauhpun bertengkar. Entah harus bagaimana menjelaskan hal ini. Rindu bila dekat? Yah kita rindu untuk bertengkar. Karenanya, bila tengah bersama kita masing-masing membanting setir untuk saling berbuat baik kepada satu sama lain, agar jauh nanti kita pertengkarkan lagi hal ini. Pertengkarkan masalah kecil yang terjadi ketika kita saling dekat dan bercengkerama.
Hubungan yang aneh. Kita tak pernah akur. Selalu berselisih paham setiap mengutarakan pendapat. Bahkan tentang film sekalipun. Walaupun sama-sama menyukai film, tetapi kita punya pandangan yang berbeda setiap menyimpulkan film. Hanya saja bila tidak ada yang mengalah, mungkin selisih pendapat seperti itu bisa terbawa hingga meja hijau. Yah, se-ekstrim itulah selisih pendapat yang terjadi. Aku dan dia memang seperti itu. tak heran bila hubungan kami begitu aneh dan tidak normal.
Aku sering tertawa memikirkan tentang hubunganku dan dia. Bila lelah bertengkar, kadang kita mengeluh kepada diri kita sendiri, bertanya kepada hubungan kita, kapan kita bisa berhubungan normal? Kapan kita bisa aman-aman saja dalam seminggu? Sepertinya sehari pun kami tak pernah luput dari cek cok. Namun sungguh, aku begitu merindukan hal itu ketika tidak ada dia muncul di social media tiga hari. Aku seperti kehilangan partner. Partner bertengkar.
Apa maumu? Apa tidak capek setiap hari seperti ini? Justru kamu yang harus ditanya seperti itu? berapa kali lagi harus aku ulangi perkataanku? Ahh, entahlah. Kau tidak memberiku ruang. Lah, lalu? Jadi? Gimana? Baiknya? Kau egois. Kalimat-kalimat seperti inilah yang sering kami lontarkan setiap bertengkar. Anehnya, kalimat yang kami gunakan selalu bertukar. Hari ini aku mengeluarkan kalimat A, maka besok giliran dia untuk mengeluarkan kalimat itu. kami terlalu sering melakukan hal seperti itu. kami tak pernah bosan. Aku selalu senang bila pertengkaran itu mulai terjadi. Ada kepuasan tersendiri ketika aku mampu mengeluarkan uneg-uneg. Ada pendewasaan diri. Pembelajaran. Aku pun senang bisa mendengar keluh kesahmu, aku tak ingin kau seperti itu. Namun, tak pernah aku realisasikan. Hanya sekedar teori. Setelah itu, menjauh hilang dibawa angin kejenuhan. Itulah kesalahan fatal yang aku lakukan hingga selalu membuat tuan Cerewet itu semakin cerewet. Namun bila terlalu lelah menghadapiku, biasanya dia akan cuti untuk cerewet.


Untuk tuan Cerewetku yang tak pernah lelah mencari kesalahan bahkan hebat untuk membuatku menjadi salah. Terimakasih untuk hari-harinya. Amarahmu sedikit mendewasakanku. Amarahmu membuatku menemukan sisi paling buruk dari diriku yang tak pernah aku hiraukan. Posessifmu mengajarkanku untuk tidak terlihat sombong di depanmu. Posessifmu menyadarkanku bahwa sifat bodo amat yang sering ku tampakkan akan berdampak buruk pula untukku. Hanya satu permohonan kecilku, tolong jangan menuntutku untuk memerhatikanmu, tanyakan dirimu. Sudahkah kau beri perhatian itu untukku? Kau tau, aku terlalu sibuk mencari cara agar bisa memerhatikanmu hingga lupa aku pun butuh hal itu. sangat butuh. 

Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah Persembahan

Hari-hari yang aku lewati kini makin membuka mata hatiku. Mata hati yang dulu selalu lupa bersyukur akan kenikmatan dari-Nya. Airmataku sering mengalir sendiri bila tengah menyaksikan bagaimana peliknya hidup mereka yang kurang beruntung. Bukannya aku ingin meninggikan diri, hanya saja aku memang merasa hidup yang diberi sang Khalik sangatlah baik dan sayang bila disia-siakan. Sedang mereka? Mereka yang setiap hari harus bergulat dengan karung berisi sampah plastik di punggung, mereka yang membersihkan jalanan umum dengan upah yang tak seberapa, mereka yang rela kepanasan dengan matahari terik demi keluarga, mereka yang tidak peduli dengan keringat bahkan luka pada badan mereka demi sesuap nasi dan masih banyak lagi kesusahan yang aku saksikan setiap ku susuri jalanan di kota metro ini. Aku suka memperhatikan disekitarku. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan pelajaran dari mereka yang aku temui.
Aku akan menceritakan sedikit orang-orang yang begitu menyentuh hatiku. Jika mengingat semangat mereka, terkadang aku merasa tersaingi, iri dan seperti marah terhadap diriku sendiri. Adalah ibu Ramlah. Seorang single parents yang merawat dengan kasih sayang ketiga anaknya. Penuh semangat dan pantang menyerah. Sangat setia dengan sang suami yang telah di panggil lebih awal oleh sang pemilik nyawa. Beliau pernah mengatakan padaku bahwa dia takkan menikah lagi. Itu amanah sang suami. Kata sang suami, mereka harus tetap bersama di surge nantinya. Berkumpul lagi menjadi keluarga yang utuh. Bu Ramlah menceritakannya dengan senyuman yang tersipu tanda malu kepadaku, tapi aku memberi apresiasi istimewa kepada beliau. Sungguh aku akan meniru semangat dan kesetiaan beliau. Hanya akan mencintai satu lelaki. Kini dan nanti bahkan selamanya.
Sosok lelaki ini pun menginspirasiku dengan sangat. Aku belum sempat berkenalan dengannya. Padahal pertemuanku dengan beliau lebih dulu dari pertemuanku dengan bu Ramlah. Dia seorang pengumpul sampah. Menunggu sampah plastic di depan tong sampah besar di depan lorongku. Aku melihat ada begitu banyak beban yang beliau pikul dari tatapan mata dan raut wajahnya pada setiap orang yang dia lihat berlalu lalang didepannya. Tapi aku menemukan sebuah semangat dan pantang menyerah dari senyum yang beliau lukis dari wajah berminyaknya. Aku sudah beberapa kali memberikan sedikit rejeki ku kepada beliau. Walaupun tidak seberapa namun aku senang sekaligus terharu setiap kali melakukan hal itu. aku memberikannya secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapapun. Dan aku baru saja membocorkannya pada kalian. Yah pada kalian para tulisan-tulisanku. Dari beliau, aku belajar bagaimana agar tidak membuang makanan, menyisakan makanan yang ku beli, membatasi belanjaan juga tetap berbagi pada siapapun.
Juga seorang nenek tua yang berbadan rapuh. Berjalan bungkuk dengan kantongan besar berisi sampah plastik. Rambut putih dan wajah yang tak lagi muda tak menyurutkan langkah kaki tergopoh-gopohnya untuk mencari sebatang emas. Aku sangat ingin melihatnya setiap hari, memberikannya sedikit rejeki, berbagi semangat, menguatkannya dengan genggaman kagumku pada beliau. Kagum ku pada beliau terletak pada bagaimana dia berusaha. Dia tak rela bila harus menengadakan tangannya di bawah lalu mengharap seseorang memberikannya uang dengan Cuma-Cuma. Beliau wanita hebat yang menginspirasiku. Memotivasiku untuk terus menabung dan menolong siapapun yang butuh. Selagi tanganku mampu menggenggam mereka, selagi bahuku mampu menopang kesedihan mereka, selagi senyumku terus terukir untuk mereka, canda ku yang menyenangkan untuk mereka, untuk mereka yang merasa hidup mereka selalu bermasalah bahkan tak pernah bahagia. Akan ku sadarkan mereka, hidup tak sepelik itu, kawan.


Jumat, 06 November 2015

Tuan Cerewet

Mataku tidak berhenti untuk menatap sosok itu. Sosok penuh charisma. Sangat percaya diri. Langkahnya begitu meyakinkan meski kepalanya menunduk. Aku baru melihatnya disini. Mungkin memang dia new comer. Aku pemerhati yang baik, tidak mungkin seorang yang penuh charisma seperti dia luput dari pandanganku. Tempat kami duduk memang berjauhan, jadi aku dapat dengan bebas memperhatikannya. Kepalaku tak bisa diam untuk tidak menoleh padanya. Aku tak punya alasan kenapa terus melihatnya. Aku tak tahu kenapa mataku begitu terpikat oleh parasnya.Berawal dari pertemuan singkat itu, kini aku mulai suka memperhatikannya. Aku sibuk sendiri dengan melihatnya. Aku tertawa, mengangguk tanpa sebab, tersenyum bahkan menjadi bodoh ketika tatapanku bertemu dengan mata tajamnya. Aku tertawa melihat tingkah konyolnya, sepertinya dia sangat mahir dalam hal itu. Tapi dia juga sangat dapat diandalkan dalam hal berpendapat. Pemikirannya tentang hal apa saja membuatku mengangguk yang berarti aku paham dan setuju dengan pemikirannya. Langkah yang meyakinkan adalah daya tarik tersendiri. Meski tidak tinggi, namun sungguh. Aku suka melihatnya. Mengaguminya. Memperhatikannya. Dia satu-satunya teman jurusan yang membuatku terkesan sejak awal. Sejak kakinya memasuki ruangan dimana kami semua dikumpulkan. Yah dia.Beberapa hari setelah itu, diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan untuk jurusanku. Itu artinya, aku dan dia seruangan lagi. Duduk dikursi yang sejenis meski tak sama. Aku bisa dengan mudah memperhatikannya tanpa harus mencarinya. Aku bersemangat. Benar saja, tanpa sengaja tempat duduk kami berdekatan meski tak berseblahan. Kini, aku akan lebih sering mendengar suara, tawa dan candanya. Kini, aku semakin dekat dengannya. Meski dia sama sekali tidak menyadari hal ini. Bahwa ada seorang gadis bodoh yang diam-diam mengaguminya. Aku menikmati keadaan ini. Sangat menikmati tuan. Tak peduli apapun yang akan terjadi. Entah kau akan mengetahuinya atau aku akan terus seperti ini.Aku lupa sejak kapan aku mengagumi diam-diam dirimu. Yang pastinya hingga hari dimana kuliah mulai berjalan normal, kau masih ku puja dalam diamku. Aku selalu bertanya dalam hati, apa jadinya bila aku bisa akrab denganmu? Bagaimana rasanya bisa tertawa denganmu? Apa kira-kira yang bisa kita bahas dan perdebatkan? Mungkin aku hanya bisa diam sambil menopang dagu lalu memperhatikanmu hingga hari berakhir. Aku sangat ingin hal itu terjadi namun aku khawatir dengan sikapku nantinya. Aku khawatir aku bersikap bodoh, berbicara hal yang tak berbobot, becanda dengan hasil yang garing dan yah masih banyak lagi hal-hal lain yang ku khawatirkan bila kita bisa akrab. Lagipula hal seperti itu mustahil untuk terjadi. Aku sangat yakin. Aku dan kamu adalah orang yang sangat berbeda. Dan lihatlah, sekarang aku telah berani memadukan kata kamu dengan diriku. Bukan lagi aku dan dia. Kini aku dan kamu. Kita semakin dekat bukan?Tuan Cerewet. Itu julukan yang pantas untukmu.