Sunday, on April 25 2016 at 06:38 PM
Aku tertarik kembali membaca tulisan-tulisanku yang lalu sesaat setelah aku mengingatmu yang kala itu tersenyum penuh arti yang tidak ku pahami saat mendapati kembali tulisanku. Aku memulainya dengan tulisan tentangmu. Sungguh, hon. Aku menertawai diriku sendiri. Aku begitu malu dengan apa yang aku tulis. Aku merasa jijik mendapati diriku yang begitu mengagumi dirimu. Aku malu tertangkap basah karena memiliki perasaan yang berlebihan kepadamu oleh mu melalui tulisanku. Terkadang, saat melihatmu tersenyum membaca tulisanku aku berharap kau bisa sedikit merubah perasaanmu terhadapku. Aku berharap kau bisa menyadari sedikit perasaanku. Aku tidak mengharapkan banyak, namun bila kau bisa menyadari dengan banyak maka aku akan begitu bersyukur. Hahaha *LOL.
Hingga kini, aku masih menerka-nerka tentang bagaimana perasaanmu terhadapku. Adakah? Sedikitkah? Banyakkah? Entahlah. Namun kemungkinan ketiga tidak mungkin terjadi, sebab bila banyak, kau tidak mungkin memiliki wanita lain yang membuatmu tersenyum saat membalas chatting, tidak mungkin ada nama-nama wanita lain yang harus aku cemburui dan curigai. Hahaha. Kadang aku begitu bodoh menghadapimu yang terlalu pintar membodohiku yang memang bodoh. Spontanitas yang terjadi saat kau membicarakan perselingkuhan saat itu ialah pikiranku tepat tertuju pada ibu. Masalalu keluargaku yang kelam yang sempat membuatku membenci sosok lelaki yang dicintai oleh ibu, sedikit banyak memengaruhi bagaimana sikapku menghadapi pengkhianatan dalam suatu hubungan. Bahkan untuk persahabatan. Apalagi hubungan vitalku dengan lawan jenis. Aakkhh aku seperti akan gila dan ingin bunuh diri.Aku akui, aku terlanjur menaruh hampir seluruh rasaku padamu. Aku akui, keputusanku bisa saja menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Aku yang masih belum tahu pasti bagaimana perasaanmu berani-beraninya mengambil keputusan bodoh seperti itu. bagaimana bila akhirnya kau hanya memanfaatkanku? Bagaimana bila kau mempermainkanku? Bahkan mengkhianatiku? Hahaha. I’m really a fucker girl. Maafkan aku yang berpikir seperti itu. Tidak ada akibat tanpa sebab, right? Hukum kausalitas berlaku untuk hal apa saja; dalam dunia. Apalagi untuk hubungan yang kemungkinan jodohnya masih diambang 50:50.
Kau ingat ketika kau menanyakanku bahwa penyebab aku masih betah denganmu? Bertahan denganmu selama enam bulan. Aku akan membocorkan jawabanku padamu disini. Melalui media putih ini. Untuk pertanyaanmu itu, aku memiliki dua jawaban. Pertama, aku masih ingin mengenalmu, masih banyak pertanyaan yang perlu aku utarakan padamu dan perlu kau jawab. Kedua,aku memilki banyak pengharapan terhadapmu. Aku berharap di esok hari yang entah kapan kau bisa berubah seperti dirimu yang dulu, seperti yang kau ceritakan padaku bagaimana dirimu sebelum mengenal wanita, aku berharap kau bisa berubah menjadi lelaki tampan yang cuek dengan begitu banyak wanita yang mengagumimu, bersikap sewajarnya kepada mereka yang menyukaimu. Aku akui, menjadi tampan dan terkenal itu terbilang keren. Namun bila kau ladeni beberapa diantara mereka yang menyukaimu, aku merasa ingin tertawa di depanmu sayang. Kau terlihat begitu tidak keren sayang. Aku bahkan telah menyinggungmu beberapa kali dengan mimic senyum picikku. Aku berharap kau akan menjadi sosok seperti itu esok hari yang entah kapan. Aku pun berharap kau bisa menatap dan menempatkanku sebagai satu-satunya wanitamu walaupun aku bodoh, seperti sebagaimana aku menatap dan memperlakukanmu sebagai satu-satunya lelakiku. Dan aku bersyukur kehebatan akal manusia yang mampu mencipatakan Microsoft Word ini bisa membantuku meluapkan beberapa emosi yang tidak mampu aku realisasikan secara langsung.
Aku yakin, ketika sekali lagi ku buka tulisanku ini aku akan kembali menertawai diriku. Aku akan malu karena pernah menulis halaman ini. Aku akan jijik dengan pembiaran sikapku yang berlebihan mengenai hal seperti ini. Hahaha. Akibat keseringan menonton drama melankolis.
*Aku selalu mengingat kalimatmu yang satu ini. “kalau sampai kau mengkhianatiku, aku akan memutuskan hubungan kita tanpa perlu kupikir dua kali. Akan kau lihat bagaimana pembalasanku”. Kalimat itu membuatku menelan ludahku beberapa kali. And we can see, who is the backbiter between we are. Sadar atau tidak, kau telah setengah menuju kearah itu. and I can see. I know for sure, hon*
Aku tertarik kembali membaca tulisan-tulisanku yang lalu sesaat setelah aku mengingatmu yang kala itu tersenyum penuh arti yang tidak ku pahami saat mendapati kembali tulisanku. Aku memulainya dengan tulisan tentangmu. Sungguh, hon. Aku menertawai diriku sendiri. Aku begitu malu dengan apa yang aku tulis. Aku merasa jijik mendapati diriku yang begitu mengagumi dirimu. Aku malu tertangkap basah karena memiliki perasaan yang berlebihan kepadamu oleh mu melalui tulisanku. Terkadang, saat melihatmu tersenyum membaca tulisanku aku berharap kau bisa sedikit merubah perasaanmu terhadapku. Aku berharap kau bisa menyadari sedikit perasaanku. Aku tidak mengharapkan banyak, namun bila kau bisa menyadari dengan banyak maka aku akan begitu bersyukur. Hahaha *LOL.
Hingga kini, aku masih menerka-nerka tentang bagaimana perasaanmu terhadapku. Adakah? Sedikitkah? Banyakkah? Entahlah. Namun kemungkinan ketiga tidak mungkin terjadi, sebab bila banyak, kau tidak mungkin memiliki wanita lain yang membuatmu tersenyum saat membalas chatting, tidak mungkin ada nama-nama wanita lain yang harus aku cemburui dan curigai. Hahaha. Kadang aku begitu bodoh menghadapimu yang terlalu pintar membodohiku yang memang bodoh. Spontanitas yang terjadi saat kau membicarakan perselingkuhan saat itu ialah pikiranku tepat tertuju pada ibu. Masalalu keluargaku yang kelam yang sempat membuatku membenci sosok lelaki yang dicintai oleh ibu, sedikit banyak memengaruhi bagaimana sikapku menghadapi pengkhianatan dalam suatu hubungan. Bahkan untuk persahabatan. Apalagi hubungan vitalku dengan lawan jenis. Aakkhh aku seperti akan gila dan ingin bunuh diri.Aku akui, aku terlanjur menaruh hampir seluruh rasaku padamu. Aku akui, keputusanku bisa saja menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Aku yang masih belum tahu pasti bagaimana perasaanmu berani-beraninya mengambil keputusan bodoh seperti itu. bagaimana bila akhirnya kau hanya memanfaatkanku? Bagaimana bila kau mempermainkanku? Bahkan mengkhianatiku? Hahaha. I’m really a fucker girl. Maafkan aku yang berpikir seperti itu. Tidak ada akibat tanpa sebab, right? Hukum kausalitas berlaku untuk hal apa saja; dalam dunia. Apalagi untuk hubungan yang kemungkinan jodohnya masih diambang 50:50.
Kau ingat ketika kau menanyakanku bahwa penyebab aku masih betah denganmu? Bertahan denganmu selama enam bulan. Aku akan membocorkan jawabanku padamu disini. Melalui media putih ini. Untuk pertanyaanmu itu, aku memiliki dua jawaban. Pertama, aku masih ingin mengenalmu, masih banyak pertanyaan yang perlu aku utarakan padamu dan perlu kau jawab. Kedua,aku memilki banyak pengharapan terhadapmu. Aku berharap di esok hari yang entah kapan kau bisa berubah seperti dirimu yang dulu, seperti yang kau ceritakan padaku bagaimana dirimu sebelum mengenal wanita, aku berharap kau bisa berubah menjadi lelaki tampan yang cuek dengan begitu banyak wanita yang mengagumimu, bersikap sewajarnya kepada mereka yang menyukaimu. Aku akui, menjadi tampan dan terkenal itu terbilang keren. Namun bila kau ladeni beberapa diantara mereka yang menyukaimu, aku merasa ingin tertawa di depanmu sayang. Kau terlihat begitu tidak keren sayang. Aku bahkan telah menyinggungmu beberapa kali dengan mimic senyum picikku. Aku berharap kau akan menjadi sosok seperti itu esok hari yang entah kapan. Aku pun berharap kau bisa menatap dan menempatkanku sebagai satu-satunya wanitamu walaupun aku bodoh, seperti sebagaimana aku menatap dan memperlakukanmu sebagai satu-satunya lelakiku. Dan aku bersyukur kehebatan akal manusia yang mampu mencipatakan Microsoft Word ini bisa membantuku meluapkan beberapa emosi yang tidak mampu aku realisasikan secara langsung.
Aku yakin, ketika sekali lagi ku buka tulisanku ini aku akan kembali menertawai diriku. Aku akan malu karena pernah menulis halaman ini. Aku akan jijik dengan pembiaran sikapku yang berlebihan mengenai hal seperti ini. Hahaha. Akibat keseringan menonton drama melankolis.
*Aku selalu mengingat kalimatmu yang satu ini. “kalau sampai kau mengkhianatiku, aku akan memutuskan hubungan kita tanpa perlu kupikir dua kali. Akan kau lihat bagaimana pembalasanku”. Kalimat itu membuatku menelan ludahku beberapa kali. And we can see, who is the backbiter between we are. Sadar atau tidak, kau telah setengah menuju kearah itu. and I can see. I know for sure, hon*