Selasa, 22 Desember 2015

My Partner

Untuk yang kesekian kalinya napasku begitu panjang terhela setelah beberapa sekon yang lalu ku hirup ooksigen sebagai kebutuhanku. Helaan napasku begitu panjang setiap membaca chatting orang itu. dia kembali lagi dengan gaya tuntutannya yang membuat siapapun yang benar akan menjadi salah karenanya. Hari-hari yang kami habiskan selalu dengan cekcok mulut yang akan reda apabila telah bertatap muka secara langsung. Yah seperti itulah kami. Dua makhluk abstrak yang disatukan karena kesesuaian roh.
Sering aku berjumpa anonym yang bersua “bila dekat bertengkar, bila jauh pun rindu”. Setiap mereka yang mendengarkan hal ini pasti akan mengangguk sambil tersenyum tanda bahwa anonym itu sama seperti apa yang terjadi padanya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kami. Dua abstrak yang aneh. Kami melakukan sebaliknya. Bila dekat rindu, bila jauhpun bertengkar. Entah harus bagaimana menjelaskan hal ini. Rindu bila dekat? Yah kita rindu untuk bertengkar. Karenanya, bila tengah bersama kita masing-masing membanting setir untuk saling berbuat baik kepada satu sama lain, agar jauh nanti kita pertengkarkan lagi hal ini. Pertengkarkan masalah kecil yang terjadi ketika kita saling dekat dan bercengkerama.
Hubungan yang aneh. Kita tak pernah akur. Selalu berselisih paham setiap mengutarakan pendapat. Bahkan tentang film sekalipun. Walaupun sama-sama menyukai film, tetapi kita punya pandangan yang berbeda setiap menyimpulkan film. Hanya saja bila tidak ada yang mengalah, mungkin selisih pendapat seperti itu bisa terbawa hingga meja hijau. Yah, se-ekstrim itulah selisih pendapat yang terjadi. Aku dan dia memang seperti itu. tak heran bila hubungan kami begitu aneh dan tidak normal.
Aku sering tertawa memikirkan tentang hubunganku dan dia. Bila lelah bertengkar, kadang kita mengeluh kepada diri kita sendiri, bertanya kepada hubungan kita, kapan kita bisa berhubungan normal? Kapan kita bisa aman-aman saja dalam seminggu? Sepertinya sehari pun kami tak pernah luput dari cek cok. Namun sungguh, aku begitu merindukan hal itu ketika tidak ada dia muncul di social media tiga hari. Aku seperti kehilangan partner. Partner bertengkar.
Apa maumu? Apa tidak capek setiap hari seperti ini? Justru kamu yang harus ditanya seperti itu? berapa kali lagi harus aku ulangi perkataanku? Ahh, entahlah. Kau tidak memberiku ruang. Lah, lalu? Jadi? Gimana? Baiknya? Kau egois. Kalimat-kalimat seperti inilah yang sering kami lontarkan setiap bertengkar. Anehnya, kalimat yang kami gunakan selalu bertukar. Hari ini aku mengeluarkan kalimat A, maka besok giliran dia untuk mengeluarkan kalimat itu. kami terlalu sering melakukan hal seperti itu. kami tak pernah bosan. Aku selalu senang bila pertengkaran itu mulai terjadi. Ada kepuasan tersendiri ketika aku mampu mengeluarkan uneg-uneg. Ada pendewasaan diri. Pembelajaran. Aku pun senang bisa mendengar keluh kesahmu, aku tak ingin kau seperti itu. Namun, tak pernah aku realisasikan. Hanya sekedar teori. Setelah itu, menjauh hilang dibawa angin kejenuhan. Itulah kesalahan fatal yang aku lakukan hingga selalu membuat tuan Cerewet itu semakin cerewet. Namun bila terlalu lelah menghadapiku, biasanya dia akan cuti untuk cerewet.


Untuk tuan Cerewetku yang tak pernah lelah mencari kesalahan bahkan hebat untuk membuatku menjadi salah. Terimakasih untuk hari-harinya. Amarahmu sedikit mendewasakanku. Amarahmu membuatku menemukan sisi paling buruk dari diriku yang tak pernah aku hiraukan. Posessifmu mengajarkanku untuk tidak terlihat sombong di depanmu. Posessifmu menyadarkanku bahwa sifat bodo amat yang sering ku tampakkan akan berdampak buruk pula untukku. Hanya satu permohonan kecilku, tolong jangan menuntutku untuk memerhatikanmu, tanyakan dirimu. Sudahkah kau beri perhatian itu untukku? Kau tau, aku terlalu sibuk mencari cara agar bisa memerhatikanmu hingga lupa aku pun butuh hal itu. sangat butuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar