Untuk yang kesekian kalinya napasku begitu panjang terhela
setelah beberapa sekon yang lalu ku hirup ooksigen sebagai kebutuhanku. Helaan
napasku begitu panjang setiap membaca chatting orang itu. dia kembali lagi
dengan gaya tuntutannya yang membuat siapapun yang benar akan menjadi salah
karenanya. Hari-hari yang kami habiskan selalu dengan cekcok mulut yang akan
reda apabila telah bertatap muka secara langsung. Yah seperti itulah kami. Dua
makhluk abstrak yang disatukan karena kesesuaian roh.
Sering aku berjumpa anonym yang bersua “bila dekat
bertengkar, bila jauh pun rindu”. Setiap mereka yang mendengarkan hal ini pasti
akan mengangguk sambil tersenyum tanda bahwa anonym itu sama seperti apa yang
terjadi padanya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kami. Dua abstrak yang aneh.
Kami melakukan sebaliknya. Bila dekat rindu, bila jauhpun bertengkar. Entah
harus bagaimana menjelaskan hal ini. Rindu bila dekat? Yah kita rindu untuk
bertengkar. Karenanya, bila tengah bersama kita masing-masing membanting setir untuk
saling berbuat baik kepada satu sama lain, agar jauh nanti kita pertengkarkan
lagi hal ini. Pertengkarkan masalah kecil yang terjadi ketika kita saling dekat
dan bercengkerama.
Hubungan yang aneh. Kita tak pernah akur. Selalu berselisih
paham setiap mengutarakan pendapat. Bahkan tentang film sekalipun. Walaupun
sama-sama menyukai film, tetapi kita punya pandangan yang berbeda setiap
menyimpulkan film. Hanya saja bila tidak ada yang mengalah, mungkin selisih
pendapat seperti itu bisa terbawa hingga meja hijau. Yah, se-ekstrim itulah
selisih pendapat yang terjadi. Aku dan dia memang seperti itu. tak heran bila
hubungan kami begitu aneh dan tidak normal.
Aku sering tertawa memikirkan tentang hubunganku dan dia.
Bila lelah bertengkar, kadang kita mengeluh kepada diri kita sendiri, bertanya
kepada hubungan kita, kapan kita bisa berhubungan normal? Kapan kita bisa
aman-aman saja dalam seminggu? Sepertinya sehari pun kami tak pernah luput dari
cek cok. Namun sungguh, aku begitu merindukan hal itu ketika tidak ada dia
muncul di social media tiga hari. Aku seperti kehilangan partner. Partner
bertengkar.
Apa maumu? Apa tidak capek setiap hari seperti ini? Justru
kamu yang harus ditanya seperti itu? berapa kali lagi harus aku ulangi
perkataanku? Ahh, entahlah. Kau tidak memberiku ruang. Lah, lalu? Jadi? Gimana?
Baiknya? Kau egois. Kalimat-kalimat seperti inilah yang sering kami lontarkan
setiap bertengkar. Anehnya, kalimat yang kami gunakan selalu bertukar. Hari ini
aku mengeluarkan kalimat A, maka besok giliran dia untuk mengeluarkan kalimat
itu. kami terlalu sering melakukan hal seperti itu. kami tak pernah bosan. Aku
selalu senang bila pertengkaran itu mulai terjadi. Ada kepuasan tersendiri
ketika aku mampu mengeluarkan uneg-uneg. Ada pendewasaan diri. Pembelajaran.
Aku pun senang bisa mendengar keluh kesahmu, aku tak ingin kau seperti itu.
Namun, tak pernah aku realisasikan. Hanya sekedar teori. Setelah itu, menjauh
hilang dibawa angin kejenuhan. Itulah kesalahan fatal yang aku lakukan hingga
selalu membuat tuan Cerewet itu semakin cerewet. Namun bila terlalu lelah
menghadapiku, biasanya dia akan cuti untuk cerewet.
Untuk tuan Cerewetku yang tak pernah lelah mencari kesalahan
bahkan hebat untuk membuatku menjadi salah. Terimakasih untuk hari-harinya.
Amarahmu sedikit mendewasakanku. Amarahmu membuatku menemukan sisi paling buruk
dari diriku yang tak pernah aku hiraukan. Posessifmu mengajarkanku untuk tidak
terlihat sombong di depanmu. Posessifmu menyadarkanku bahwa sifat bodo amat
yang sering ku tampakkan akan berdampak buruk pula untukku. Hanya satu
permohonan kecilku, tolong jangan menuntutku untuk memerhatikanmu, tanyakan
dirimu. Sudahkah kau beri perhatian itu untukku? Kau tau, aku terlalu sibuk
mencari cara agar bisa memerhatikanmu hingga lupa aku pun butuh hal itu. sangat
butuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar