Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah Persembahan

Hari-hari yang aku lewati kini makin membuka mata hatiku. Mata hati yang dulu selalu lupa bersyukur akan kenikmatan dari-Nya. Airmataku sering mengalir sendiri bila tengah menyaksikan bagaimana peliknya hidup mereka yang kurang beruntung. Bukannya aku ingin meninggikan diri, hanya saja aku memang merasa hidup yang diberi sang Khalik sangatlah baik dan sayang bila disia-siakan. Sedang mereka? Mereka yang setiap hari harus bergulat dengan karung berisi sampah plastik di punggung, mereka yang membersihkan jalanan umum dengan upah yang tak seberapa, mereka yang rela kepanasan dengan matahari terik demi keluarga, mereka yang tidak peduli dengan keringat bahkan luka pada badan mereka demi sesuap nasi dan masih banyak lagi kesusahan yang aku saksikan setiap ku susuri jalanan di kota metro ini. Aku suka memperhatikan disekitarku. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan pelajaran dari mereka yang aku temui.
Aku akan menceritakan sedikit orang-orang yang begitu menyentuh hatiku. Jika mengingat semangat mereka, terkadang aku merasa tersaingi, iri dan seperti marah terhadap diriku sendiri. Adalah ibu Ramlah. Seorang single parents yang merawat dengan kasih sayang ketiga anaknya. Penuh semangat dan pantang menyerah. Sangat setia dengan sang suami yang telah di panggil lebih awal oleh sang pemilik nyawa. Beliau pernah mengatakan padaku bahwa dia takkan menikah lagi. Itu amanah sang suami. Kata sang suami, mereka harus tetap bersama di surge nantinya. Berkumpul lagi menjadi keluarga yang utuh. Bu Ramlah menceritakannya dengan senyuman yang tersipu tanda malu kepadaku, tapi aku memberi apresiasi istimewa kepada beliau. Sungguh aku akan meniru semangat dan kesetiaan beliau. Hanya akan mencintai satu lelaki. Kini dan nanti bahkan selamanya.
Sosok lelaki ini pun menginspirasiku dengan sangat. Aku belum sempat berkenalan dengannya. Padahal pertemuanku dengan beliau lebih dulu dari pertemuanku dengan bu Ramlah. Dia seorang pengumpul sampah. Menunggu sampah plastic di depan tong sampah besar di depan lorongku. Aku melihat ada begitu banyak beban yang beliau pikul dari tatapan mata dan raut wajahnya pada setiap orang yang dia lihat berlalu lalang didepannya. Tapi aku menemukan sebuah semangat dan pantang menyerah dari senyum yang beliau lukis dari wajah berminyaknya. Aku sudah beberapa kali memberikan sedikit rejeki ku kepada beliau. Walaupun tidak seberapa namun aku senang sekaligus terharu setiap kali melakukan hal itu. aku memberikannya secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapapun. Dan aku baru saja membocorkannya pada kalian. Yah pada kalian para tulisan-tulisanku. Dari beliau, aku belajar bagaimana agar tidak membuang makanan, menyisakan makanan yang ku beli, membatasi belanjaan juga tetap berbagi pada siapapun.
Juga seorang nenek tua yang berbadan rapuh. Berjalan bungkuk dengan kantongan besar berisi sampah plastik. Rambut putih dan wajah yang tak lagi muda tak menyurutkan langkah kaki tergopoh-gopohnya untuk mencari sebatang emas. Aku sangat ingin melihatnya setiap hari, memberikannya sedikit rejeki, berbagi semangat, menguatkannya dengan genggaman kagumku pada beliau. Kagum ku pada beliau terletak pada bagaimana dia berusaha. Dia tak rela bila harus menengadakan tangannya di bawah lalu mengharap seseorang memberikannya uang dengan Cuma-Cuma. Beliau wanita hebat yang menginspirasiku. Memotivasiku untuk terus menabung dan menolong siapapun yang butuh. Selagi tanganku mampu menggenggam mereka, selagi bahuku mampu menopang kesedihan mereka, selagi senyumku terus terukir untuk mereka, canda ku yang menyenangkan untuk mereka, untuk mereka yang merasa hidup mereka selalu bermasalah bahkan tak pernah bahagia. Akan ku sadarkan mereka, hidup tak sepelik itu, kawan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar