Hari-hari yang aku lewati kini makin membuka mata hatiku.
Mata hati yang dulu selalu lupa bersyukur akan kenikmatan dari-Nya. Airmataku
sering mengalir sendiri bila tengah menyaksikan bagaimana peliknya hidup mereka
yang kurang beruntung. Bukannya aku ingin meninggikan diri, hanya saja aku
memang merasa hidup yang diberi sang Khalik sangatlah baik dan sayang bila
disia-siakan. Sedang mereka? Mereka yang setiap hari harus bergulat dengan
karung berisi sampah plastik di punggung, mereka yang membersihkan jalanan umum
dengan upah yang tak seberapa, mereka yang rela kepanasan dengan matahari terik
demi keluarga, mereka yang tidak peduli dengan keringat bahkan luka pada badan
mereka demi sesuap nasi dan masih banyak lagi kesusahan yang aku saksikan
setiap ku susuri jalanan di kota metro ini. Aku suka memperhatikan disekitarku.
Dengan begitu, aku bisa mendapatkan pelajaran dari mereka yang aku temui.
Aku akan menceritakan sedikit orang-orang yang begitu
menyentuh hatiku. Jika mengingat semangat mereka, terkadang aku merasa
tersaingi, iri dan seperti marah terhadap diriku sendiri. Adalah ibu Ramlah.
Seorang single parents yang merawat dengan kasih sayang ketiga anaknya. Penuh
semangat dan pantang menyerah. Sangat setia dengan sang suami yang telah di
panggil lebih awal oleh sang pemilik nyawa. Beliau pernah mengatakan padaku
bahwa dia takkan menikah lagi. Itu amanah sang suami. Kata sang suami, mereka
harus tetap bersama di surge nantinya. Berkumpul lagi menjadi keluarga yang
utuh. Bu Ramlah menceritakannya dengan senyuman yang tersipu tanda malu
kepadaku, tapi aku memberi apresiasi istimewa kepada beliau. Sungguh aku akan
meniru semangat dan kesetiaan beliau. Hanya akan mencintai satu lelaki. Kini
dan nanti bahkan selamanya.
Sosok lelaki ini pun menginspirasiku dengan sangat. Aku belum
sempat berkenalan dengannya. Padahal pertemuanku dengan beliau lebih dulu dari
pertemuanku dengan bu Ramlah. Dia seorang pengumpul sampah. Menunggu sampah
plastic di depan tong sampah besar di depan lorongku. Aku melihat ada begitu banyak
beban yang beliau pikul dari tatapan mata dan raut wajahnya pada setiap orang
yang dia lihat berlalu lalang didepannya. Tapi aku menemukan sebuah semangat
dan pantang menyerah dari senyum yang beliau lukis dari wajah berminyaknya. Aku
sudah beberapa kali memberikan sedikit rejeki ku kepada beliau. Walaupun tidak
seberapa namun aku senang sekaligus terharu setiap kali melakukan hal itu. aku
memberikannya secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapapun. Dan aku baru saja
membocorkannya pada kalian. Yah pada kalian para tulisan-tulisanku. Dari
beliau, aku belajar bagaimana agar tidak membuang makanan, menyisakan makanan
yang ku beli, membatasi belanjaan juga tetap berbagi pada siapapun.
Juga seorang nenek tua yang berbadan rapuh. Berjalan bungkuk
dengan kantongan besar berisi sampah plastik. Rambut putih dan wajah yang tak
lagi muda tak menyurutkan langkah kaki tergopoh-gopohnya untuk mencari sebatang
emas. Aku sangat ingin melihatnya setiap hari, memberikannya sedikit rejeki,
berbagi semangat, menguatkannya dengan genggaman kagumku pada beliau. Kagum ku
pada beliau terletak pada bagaimana dia berusaha. Dia tak rela bila harus
menengadakan tangannya di bawah lalu mengharap seseorang memberikannya uang
dengan Cuma-Cuma. Beliau wanita hebat yang menginspirasiku. Memotivasiku untuk
terus menabung dan menolong siapapun yang butuh. Selagi tanganku mampu
menggenggam mereka, selagi bahuku mampu menopang kesedihan mereka, selagi
senyumku terus terukir untuk mereka, canda ku yang menyenangkan untuk mereka,
untuk mereka yang merasa hidup mereka selalu bermasalah bahkan tak pernah
bahagia. Akan ku sadarkan mereka, hidup tak sepelik itu, kawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar