Jumat, 06 November 2015

Tuan Cerewet

Mataku tidak berhenti untuk menatap sosok itu. Sosok penuh charisma. Sangat percaya diri. Langkahnya begitu meyakinkan meski kepalanya menunduk. Aku baru melihatnya disini. Mungkin memang dia new comer. Aku pemerhati yang baik, tidak mungkin seorang yang penuh charisma seperti dia luput dari pandanganku. Tempat kami duduk memang berjauhan, jadi aku dapat dengan bebas memperhatikannya. Kepalaku tak bisa diam untuk tidak menoleh padanya. Aku tak punya alasan kenapa terus melihatnya. Aku tak tahu kenapa mataku begitu terpikat oleh parasnya.Berawal dari pertemuan singkat itu, kini aku mulai suka memperhatikannya. Aku sibuk sendiri dengan melihatnya. Aku tertawa, mengangguk tanpa sebab, tersenyum bahkan menjadi bodoh ketika tatapanku bertemu dengan mata tajamnya. Aku tertawa melihat tingkah konyolnya, sepertinya dia sangat mahir dalam hal itu. Tapi dia juga sangat dapat diandalkan dalam hal berpendapat. Pemikirannya tentang hal apa saja membuatku mengangguk yang berarti aku paham dan setuju dengan pemikirannya. Langkah yang meyakinkan adalah daya tarik tersendiri. Meski tidak tinggi, namun sungguh. Aku suka melihatnya. Mengaguminya. Memperhatikannya. Dia satu-satunya teman jurusan yang membuatku terkesan sejak awal. Sejak kakinya memasuki ruangan dimana kami semua dikumpulkan. Yah dia.Beberapa hari setelah itu, diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan untuk jurusanku. Itu artinya, aku dan dia seruangan lagi. Duduk dikursi yang sejenis meski tak sama. Aku bisa dengan mudah memperhatikannya tanpa harus mencarinya. Aku bersemangat. Benar saja, tanpa sengaja tempat duduk kami berdekatan meski tak berseblahan. Kini, aku akan lebih sering mendengar suara, tawa dan candanya. Kini, aku semakin dekat dengannya. Meski dia sama sekali tidak menyadari hal ini. Bahwa ada seorang gadis bodoh yang diam-diam mengaguminya. Aku menikmati keadaan ini. Sangat menikmati tuan. Tak peduli apapun yang akan terjadi. Entah kau akan mengetahuinya atau aku akan terus seperti ini.Aku lupa sejak kapan aku mengagumi diam-diam dirimu. Yang pastinya hingga hari dimana kuliah mulai berjalan normal, kau masih ku puja dalam diamku. Aku selalu bertanya dalam hati, apa jadinya bila aku bisa akrab denganmu? Bagaimana rasanya bisa tertawa denganmu? Apa kira-kira yang bisa kita bahas dan perdebatkan? Mungkin aku hanya bisa diam sambil menopang dagu lalu memperhatikanmu hingga hari berakhir. Aku sangat ingin hal itu terjadi namun aku khawatir dengan sikapku nantinya. Aku khawatir aku bersikap bodoh, berbicara hal yang tak berbobot, becanda dengan hasil yang garing dan yah masih banyak lagi hal-hal lain yang ku khawatirkan bila kita bisa akrab. Lagipula hal seperti itu mustahil untuk terjadi. Aku sangat yakin. Aku dan kamu adalah orang yang sangat berbeda. Dan lihatlah, sekarang aku telah berani memadukan kata kamu dengan diriku. Bukan lagi aku dan dia. Kini aku dan kamu. Kita semakin dekat bukan?Tuan Cerewet. Itu julukan yang pantas untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar