Mataku tidak berhenti untuk menatap
sosok itu. Sosok penuh charisma. Sangat percaya diri. Langkahnya begitu
meyakinkan meski kepalanya menunduk. Aku baru melihatnya disini. Mungkin memang
dia new comer. Aku pemerhati yang baik, tidak mungkin seorang yang penuh
charisma seperti dia luput dari pandanganku. Tempat kami duduk memang
berjauhan, jadi aku dapat dengan bebas memperhatikannya. Kepalaku tak bisa diam
untuk tidak menoleh padanya. Aku tak punya alasan kenapa terus melihatnya. Aku
tak tahu kenapa mataku begitu terpikat oleh parasnya.Berawal dari pertemuan singkat itu,
kini aku mulai suka memperhatikannya. Aku sibuk sendiri dengan melihatnya. Aku
tertawa, mengangguk tanpa sebab, tersenyum bahkan menjadi bodoh ketika
tatapanku bertemu dengan mata tajamnya. Aku tertawa melihat tingkah konyolnya,
sepertinya dia sangat mahir dalam hal itu. Tapi dia juga sangat dapat
diandalkan dalam hal berpendapat. Pemikirannya tentang hal apa saja membuatku
mengangguk yang berarti aku paham dan setuju dengan pemikirannya. Langkah yang
meyakinkan adalah daya tarik tersendiri. Meski tidak tinggi, namun sungguh. Aku
suka melihatnya. Mengaguminya. Memperhatikannya. Dia satu-satunya teman jurusan
yang membuatku terkesan sejak awal. Sejak kakinya memasuki ruangan dimana kami
semua dikumpulkan. Yah dia.Beberapa hari setelah itu, diadakan
Latihan Dasar Kepemimpinan untuk jurusanku. Itu artinya, aku dan dia seruangan
lagi. Duduk dikursi yang sejenis meski tak sama. Aku bisa dengan mudah
memperhatikannya tanpa harus mencarinya. Aku bersemangat. Benar saja, tanpa
sengaja tempat duduk kami berdekatan meski tak berseblahan. Kini, aku akan
lebih sering mendengar suara, tawa dan candanya. Kini, aku semakin dekat
dengannya. Meski dia sama sekali tidak menyadari hal ini. Bahwa ada seorang gadis
bodoh yang diam-diam mengaguminya. Aku menikmati keadaan ini. Sangat menikmati
tuan. Tak peduli apapun yang akan terjadi. Entah kau akan mengetahuinya atau
aku akan terus seperti ini.Aku lupa sejak kapan aku mengagumi
diam-diam dirimu. Yang pastinya hingga hari dimana kuliah mulai berjalan
normal, kau masih ku puja dalam diamku. Aku selalu bertanya dalam hati, apa
jadinya bila aku bisa akrab denganmu? Bagaimana rasanya bisa tertawa denganmu?
Apa kira-kira yang bisa kita bahas dan perdebatkan? Mungkin aku hanya bisa diam
sambil menopang dagu lalu memperhatikanmu hingga hari berakhir. Aku sangat
ingin hal itu terjadi namun aku khawatir dengan sikapku nantinya. Aku khawatir
aku bersikap bodoh, berbicara hal yang tak berbobot, becanda dengan hasil yang
garing dan yah masih banyak lagi hal-hal lain yang ku khawatirkan bila kita
bisa akrab. Lagipula hal seperti itu mustahil untuk terjadi. Aku sangat yakin.
Aku dan kamu adalah orang yang sangat berbeda. Dan lihatlah, sekarang aku telah
berani memadukan kata kamu dengan diriku. Bukan lagi aku dan dia. Kini aku dan
kamu. Kita semakin dekat bukan?Tuan Cerewet. Itu julukan yang pantas
untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar