Ini adalah puncak perasaan didalam dadaku begitu menggebu.
Malam ini ketika kata itu keluar, airmataku telah siap melompat dari ujung
pelopakku. Mataku begitu panas menahan pedihnya rasa rindu yang meletup-letup
ini. Sudah ku coba untuk mengungkapkannya pada ibuku. Namun, setiap kalimat
rindu akan tersirat dari lidahku seketika airmataku langsung membuyarkan
kalimatku. Seolah-olah dia telah mewakili semua kalimat yang akan aku
keluarkan.Ibu. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku yakin
inilah cinta yang sesungguhnya bu. Cinta yang murni tanpa gono-gini. Tanpa
alasan. Tanpa syarat. Tanpa batas. Tanpa kata. Aku cinta denganmu bu. Dengan
sangat. Akupun rindu padamu bu. Dengan sangat. Bahkan aku membutuhkanmu saat
ini juga bu. Dengan sangat. Hingga tulisan ini ku rangkai, para air hangat itu
telah siap melompat keluar. Tapi aku menahannya. Entah apa tujuanku
melakukannya. Padahal jika aku menangis pun ibu takkan bisa menghampiri lalu
memelukku dengan hangatnya kasih ibu. Aku… Aku… Aku begitu merindukanmu bu. Aku
rindu. Dengan sangat bu.Entah kapan lagi Tuhan memberikan kita kesempatan untuk
menghabiskan waktu yang begitu lama hanya untuk tertawa dan bercerita apa saja.
Aku rindu akan hal itu bu. Bagaimana suara lembutmu mengeluarkan kalimat yang
kadang membuatku geli. Ceritamu yang begitu membuatku tak bosan untuk
mendengarnya walau telingaku telah lelah mendengarkannya ribuan kali. Aku rindu
bagaimana ibu mengejekku ketika ada lagi hal konyol yang aku lakukan atau aku
dapat. Aku rindu bagaimana ibu menasehatiku. Walaupun itu sangat salah, ibu
tetap dengan sabar memberitahuku walau kadang nada bicara ibu sedikit meninggi.
Aku rindu semua pada ibu. Aku rindu semua hal tentang ibu. Aku rindu dengan
sangat kepadamu ibu. Sosok wanita tercantik yang sangat mirip denganku. Wanita
yang bila berjalan denganku akan terlihat seperti adik dan kakak. Entah karena
ibu yang terlihat muda atau aku yang terlihat tua. Akhh bodo amat lah! Intinya
saat berjalan seperti itu, aku sangat senang bu. Aku terlihat terlalu sombong untuk
memamerkanmu kepada dunia. Aku begitu bangga berjalan dengan ibu yang seperti
kakakku.Aku terdiam sejenak ketika melihat makanan yang ibu kirimkan
lagi untukku. Aku seperti terhantam batu karang yang tajam dan banyak. Perasaan
rinduku tiba-tiba saja kembali meletup-letup dengan hebatnya. Mereka memenuhi
semua kapasitas pikiran dan hatiku. Semuanya bertema ibu. Sosok luarbiasa ibu
memenuhi seluruh sel dalam tubuhku. Bahkan sel yang mati sekalipun. Airmataku
ikut membasahi pipiku. Turut meramaikan moment kerinduan ini. Ibu. Aku rindu.
Rindu serindu rindunya. Rasanya ingin pulang saat ini juga. Belum lagi ketika
malam minggu yang kalem kemarin, ibu menelponku di tengah malam dengan suara
yang parau dan diikuti dengan batuk berdahakmu. Aku seperti ingin sekali lari
kedapur mengambil air hangat untukmu, lalu mengusap-usap belakangmu agar ibu
berhenti batuk. Aku ingin sekali bu. Sangat ingin. Tapi sayang, kita tengah
berjauhan. Kita tengah LDR.
Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Denganmu ibu. J
Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Denganmu ibu. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar