Minggu, 25 Oktober 2015

Very Missing Her

Ini adalah puncak perasaan didalam dadaku begitu menggebu. Malam ini ketika kata itu keluar, airmataku telah siap melompat dari ujung pelopakku. Mataku begitu panas menahan pedihnya rasa rindu yang meletup-letup ini. Sudah ku coba untuk mengungkapkannya pada ibuku. Namun, setiap kalimat rindu akan tersirat dari lidahku seketika airmataku langsung membuyarkan kalimatku. Seolah-olah dia telah mewakili semua kalimat yang akan aku keluarkan.Ibu. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku yakin inilah cinta yang sesungguhnya bu. Cinta yang murni tanpa gono-gini. Tanpa alasan. Tanpa syarat. Tanpa batas. Tanpa kata. Aku cinta denganmu bu. Dengan sangat. Akupun rindu padamu bu. Dengan sangat. Bahkan aku membutuhkanmu saat ini juga bu. Dengan sangat. Hingga tulisan ini ku rangkai, para air hangat itu telah siap melompat keluar. Tapi aku menahannya. Entah apa tujuanku melakukannya. Padahal jika aku menangis pun ibu takkan bisa menghampiri lalu memelukku dengan hangatnya kasih ibu. Aku… Aku… Aku begitu merindukanmu bu. Aku rindu. Dengan sangat bu.Entah kapan lagi Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menghabiskan waktu yang begitu lama hanya untuk tertawa dan bercerita apa saja. Aku rindu akan hal itu bu. Bagaimana suara lembutmu mengeluarkan kalimat yang kadang membuatku geli. Ceritamu yang begitu membuatku tak bosan untuk mendengarnya walau telingaku telah lelah mendengarkannya ribuan kali. Aku rindu bagaimana ibu mengejekku ketika ada lagi hal konyol yang aku lakukan atau aku dapat. Aku rindu bagaimana ibu menasehatiku. Walaupun itu sangat salah, ibu tetap dengan sabar memberitahuku walau kadang nada bicara ibu sedikit meninggi. Aku rindu semua pada ibu. Aku rindu semua hal tentang ibu. Aku rindu dengan sangat kepadamu ibu. Sosok wanita tercantik yang sangat mirip denganku. Wanita yang bila berjalan denganku akan terlihat seperti adik dan kakak. Entah karena ibu yang terlihat muda atau aku yang terlihat tua. Akhh bodo amat lah! Intinya saat berjalan seperti itu, aku sangat senang bu. Aku terlihat terlalu sombong untuk memamerkanmu kepada dunia. Aku begitu bangga berjalan dengan ibu yang seperti kakakku.Aku terdiam sejenak ketika melihat makanan yang ibu kirimkan lagi untukku. Aku seperti terhantam batu karang yang tajam dan banyak. Perasaan rinduku tiba-tiba saja kembali meletup-letup dengan hebatnya. Mereka memenuhi semua kapasitas pikiran dan hatiku. Semuanya bertema ibu. Sosok luarbiasa ibu memenuhi seluruh sel dalam tubuhku. Bahkan sel yang mati sekalipun. Airmataku ikut membasahi pipiku. Turut meramaikan moment kerinduan ini. Ibu. Aku rindu. Rindu serindu rindunya. Rasanya ingin pulang saat ini juga. Belum lagi ketika malam minggu yang kalem kemarin, ibu menelponku di tengah malam dengan suara yang parau dan diikuti dengan batuk berdahakmu. Aku seperti ingin sekali lari kedapur mengambil air hangat untukmu, lalu mengusap-usap belakangmu agar ibu berhenti batuk. Aku ingin sekali bu. Sangat ingin. Tapi sayang, kita tengah berjauhan. Kita tengah LDR.
Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Denganmu ibu. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar