Beberapa hari yang lalu seperti
biasa aku mulai disibukkan mengayun tangan kiriku untuk memberhentikan angkot
yang bersedia mengantarku hingga batas Makassar-Gowa, jarang yang mengiyakan
permintaanku. Ini karena ada jalan yang tengah diperbaiki, sehingga menjadi
pusat kemacetan setiap paginya. Pagi ini aku kuliah pukul 07.30, itu artinya
sebelum pukul tujuh aku sudah harus berada diangkot. Sialnya, saat aku melihat
dompetku malah tidak berisi. Rupanya dia kelaparan dan aku harus mengisinya.
Berjalan cepat menuju ATM, berharap semoga sudah terbuka dan yah memang sudah
terbuka. Aku bergerak cepat mengambil uang, lalu menuju Alfamart untuk menukar
uang kecil dengan membeli minuman. Aku tak berhenti menatap jam ditanganku.
Hamper setiap menit aku melakukannya, sangat terlihat bahwa aku tengah diburu
waktu. Menunggu angkot sambil terus melihat jam dan tidak ada angkot yang
lewat. Oh, thankyou God! Seketika itu pun seorang ibu dengan membonceng anaknya
menghampiriku yang tengah kalap karena menunggu.
“mau ke kampus yah dek?” Tanya si
ibu semangat.
Belum sempat ku menjawab lengkap
pertanyaannya, dia langsung menawarkan tumpangan dan tersenyum lebar kepadaku.
Aku menerima tawaran itu dengan sangat terbuka. Disaat aku bisa bersyukur
kepada Tuhan karena membuatku menunggu, Dia pun menunjukkan kebesaran-Nya itu.
Thankyou God! Once again.
Melaju cepat dengan motor matic,
menyalip dengan lincah, mencoba menghindari jebakan kemacetan, aku akui ibu ini
sangat mahir dalam hal ini. Aku tak perlu lagi khawatir dengan jam ku. Aku
tersenyum lebar.
“jurusan apa dek?” Tanya si ibu
tiba-tiba.
“eh, aqidah filsafat bu.” Jawabku
“oh. Fakultas apa?” Tanya ibu
kembali.
“ushuluddin, bu.” Aku menjawabnya
dengan sedikit teriak. Ini karena lagi di atas motor. Angin membawa separuh
suara yang kita keluarkan.
Obrolan kami pun terus berlanjut.
Mulai tempat tinggal, mengenai jurusan dan biayanya hingga akhirnya aku
mengetahui bahwa sebenarnya si ibu adalah tukang ojek. Aku sempat kaget karena
awalnya ku pikir aku akan mendapat tumpangan gratis seperti waktu itu, belum
lagi masih ada anak kecil berusia sekitar 4tahun yang dia bawa, dan yang lebih
membuatku kaget adalah ternyata dia pun memiliki seorang anak gadis yang tengah
kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan Farmasi. Detakan jantungku terpacu,
aku merinding mendengarnya bercerita tentang kehidupannya. Ini adalah yang
pertama kali aku mendengar langsung cerita luarbiasa ini. Biasanya aku hanya
mendengarnya melalui cerita orang lain. hati kecilku tersentuh. Ternyata memang
ada orang diluar sana yang berjuang keras untuk pendidikan.
Aku belum sempat menanyakan nama
ibu luarbiasa ini karena ceritanya meskipun kami sering menghabiskan waktu saat
aku memutuskan untuk menjadi pelanggannya. Beliau adalah seorang janda beranak
tiga. Anak pertamanya melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan
Farmasi, salah satu mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan lulus jalur
undangan. Aku terhantam keras oleh cerita tentang anaknya. Anak keduanya duduk
dikelas 4 SD, inipun karena beasiswa, untuk anak terakhirnya masih menikmati
masa bermainnya dan tidak jarang dia ikut si ibu mencari penumpang. Semenjak
dua tahun, sibungsu sudah biasa menghabiskan waktunya diatas motor.
Aku belum tau banyak tentang ibu
ini. Aku sangat ingin bertanya lebih banyak kepada beliau, hanya saja aku
merasa waktu dan tempatnya kurang tepat. Aku merasa tidak sopan bila harus
bertanya dengan suara yang harus dikeraskan ketika diatas motor. Aku pun
sedikit canggung bila ingin menanyakan tentang privasinya, aku takut
menyinggung perasaannya. Saat ibu mengatakan bahwa aku mesti bersyukur karena
aku berasal dari keluarga mampu aku hanya bisa tersenyum. Aku tak mungkin
menyela tuduhannya kepadaku. Aku hanya bisa beropini sendiri didalam hati. “aku
pun berjuang disini. Orangtuaku pun bekerja keras untuk membiayaiku. Hanya saja
aku memang lebih beruntung karena orangtuaku yang masih lengkap.” Hatiku
berkicau.
Untuk dilain kesempatan akan ku
usahakan untuk menggali lebih banyak tentangnya. Seorang ibu luarbiasa.
Tunggulah sebentar,bu! Bersabarlah! Kehidupanmu akan berubah jadi lebih baik.
aku percaya itu. Itu doaku sekarang dan nanti. Doa dan ceritaku mengiringi
perjalanan penuh pembelajaran milikmu. Terimakasih banyak untuk semuanya.
Membuatku semakin sadar dan semakin terpacu untuk mencapai tujuanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar