Kamis, 15 Oktober 2015

Manusia Luarbiasa

Beberapa hari yang lalu seperti biasa aku mulai disibukkan mengayun tangan kiriku untuk memberhentikan angkot yang bersedia mengantarku hingga batas Makassar-Gowa, jarang yang mengiyakan permintaanku. Ini karena ada jalan yang tengah diperbaiki, sehingga menjadi pusat kemacetan setiap paginya. Pagi ini aku kuliah pukul 07.30, itu artinya sebelum pukul tujuh aku sudah harus berada diangkot. Sialnya, saat aku melihat dompetku malah tidak berisi. Rupanya dia kelaparan dan aku harus mengisinya. Berjalan cepat menuju ATM, berharap semoga sudah terbuka dan yah memang sudah terbuka. Aku bergerak cepat mengambil uang, lalu menuju Alfamart untuk menukar uang kecil dengan membeli minuman. Aku tak berhenti menatap jam ditanganku. Hamper setiap menit aku melakukannya, sangat terlihat bahwa aku tengah diburu waktu. Menunggu angkot sambil terus melihat jam dan tidak ada angkot yang lewat. Oh, thankyou God! Seketika itu pun seorang ibu dengan membonceng anaknya menghampiriku yang tengah kalap karena menunggu.
“mau ke kampus yah dek?” Tanya si ibu semangat.
Belum sempat ku menjawab lengkap pertanyaannya, dia langsung menawarkan tumpangan dan tersenyum lebar kepadaku. Aku menerima tawaran itu dengan sangat terbuka. Disaat aku bisa bersyukur kepada Tuhan karena membuatku menunggu, Dia pun menunjukkan kebesaran-Nya itu. Thankyou God! Once again.
Melaju cepat dengan motor matic, menyalip dengan lincah, mencoba menghindari jebakan kemacetan, aku akui ibu ini sangat mahir dalam hal ini. Aku tak perlu lagi khawatir dengan jam ku. Aku tersenyum lebar.
“jurusan apa dek?” Tanya si ibu tiba-tiba.
“eh, aqidah filsafat bu.” Jawabku
“oh. Fakultas apa?” Tanya ibu kembali.
“ushuluddin, bu.” Aku menjawabnya dengan sedikit teriak. Ini karena lagi di atas motor. Angin membawa separuh suara yang kita keluarkan.
Obrolan kami pun terus berlanjut. Mulai tempat tinggal, mengenai jurusan dan biayanya hingga akhirnya aku mengetahui bahwa sebenarnya si ibu adalah tukang ojek. Aku sempat kaget karena awalnya ku pikir aku akan mendapat tumpangan gratis seperti waktu itu, belum lagi masih ada anak kecil berusia sekitar 4tahun yang dia bawa, dan yang lebih membuatku kaget adalah ternyata dia pun memiliki seorang anak gadis yang tengah kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan Farmasi. Detakan jantungku terpacu, aku merinding mendengarnya bercerita tentang kehidupannya. Ini adalah yang pertama kali aku mendengar langsung cerita luarbiasa ini. Biasanya aku hanya mendengarnya melalui cerita orang lain. hati kecilku tersentuh. Ternyata memang ada orang diluar sana yang berjuang keras untuk pendidikan.
Aku belum sempat menanyakan nama ibu luarbiasa ini karena ceritanya meskipun kami sering menghabiskan waktu saat aku memutuskan untuk menjadi pelanggannya. Beliau adalah seorang janda beranak tiga. Anak pertamanya melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan Farmasi, salah satu mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan lulus jalur undangan. Aku terhantam keras oleh cerita tentang anaknya. Anak keduanya duduk dikelas 4 SD, inipun karena beasiswa, untuk anak terakhirnya masih menikmati masa bermainnya dan tidak jarang dia ikut si ibu mencari penumpang. Semenjak dua tahun, sibungsu sudah biasa menghabiskan waktunya diatas motor.
Aku belum tau banyak tentang ibu ini. Aku sangat ingin bertanya lebih banyak kepada beliau, hanya saja aku merasa waktu dan tempatnya kurang tepat. Aku merasa tidak sopan bila harus bertanya dengan suara yang harus dikeraskan ketika diatas motor. Aku pun sedikit canggung bila ingin menanyakan tentang privasinya, aku takut menyinggung perasaannya. Saat ibu mengatakan bahwa aku mesti bersyukur karena aku berasal dari keluarga mampu aku hanya bisa tersenyum. Aku tak mungkin menyela tuduhannya kepadaku. Aku hanya bisa beropini sendiri didalam hati. “aku pun berjuang disini. Orangtuaku pun bekerja keras untuk membiayaiku. Hanya saja aku memang lebih beruntung karena orangtuaku yang masih lengkap.” Hatiku berkicau.

Untuk dilain kesempatan akan ku usahakan untuk menggali lebih banyak tentangnya. Seorang ibu luarbiasa. Tunggulah sebentar,bu! Bersabarlah! Kehidupanmu akan berubah jadi lebih baik. aku percaya itu. Itu doaku sekarang dan nanti. Doa dan ceritaku mengiringi perjalanan penuh pembelajaran milikmu. Terimakasih banyak untuk semuanya. Membuatku semakin sadar dan semakin terpacu untuk mencapai tujuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar