Good night my best realese. How are you? Aku merasa semakin
kesepian. Aku ingin sekali mengeluarkan semua keluh kesahku. Kau tau, kadang
aku lebih membutuhkan lawan daripada kawan. Bukan hanya yang sekedar
mendengarkanku bercerita panjang lebar tapi juga bisa berpendapat tentang
pembicaraanku. Aku sering mengadu pada Tuhan, aku juga sering meminta. Aku
sampai tersedu-sedu ketika menceritakan semuanya pada-Nya. Aku bersyukur Dia
memberiku kemampuan untuk menyukai menulis. Aku tak bisa mengatakan ini adalah bakat.
Karena tulisanku masih jauh dari kata baik. Tapi aku bersyukur. Tuhan tau aku
akan kesepian makanya dia kirimkan anugrah ini kepadaku. Dia memang tau mana
yang lebih baik untuk hamba-Nya.
God, aku kembali merasa kosong beberapa hari ini. Aku… aku… rindu
suasana rumah. Aku butuh orang yang bisa membuatku merasa lepas. Bebas tertawa
dan becanda. Aku rindu adik-adikku. Iqbal. Bocah ingusan yang dalam proses
puber. Aku gak sempat mengikuti perkembangan pubernya. Apa sekarang suaranya
sudah berubah? Apa sudah ada lawan jenis yang menarik perhatiannya? Apa dia
masih suka ngambek gak jelas? Apa dia masih jahil? Ah bocah gesrek itu, aku
kangen bangett. Ilham. Adik paling kece. Kadang-kadang suka jahil. Tapi dibalik
itu, dia paling suka berbagi. Dia gak bakal membiarkan orang disekitarnya gak
kebagian makanan yang dia punya, bahkan dia rela menyimpankan bagian untuk
kakaknya bila si kakak sedang gak ada. Aku bangga punya adik seperti dia. Aku
harap hingga dewasa nanti sifatnya itu masih melekat pada dirinya. Itu kedua
adik lelakiku yang gak pernah berhenti membuatku senang berada dirumah walau
mereka suka berkeliaran dan gak betah sama yang namanya rumah, kecuali bila laptopku
sudah beranak film baru. Baru tuh semangat 45 berada dirumah dengan laptop. Dan
untuk adik perempuanku aku gak perlu ceritakan. Tapi sungguh, I miss you both.
Aku rindu mama. Rindu menceritakan semua kejadian yang aku
alami setiap hari. Mulai dari kerja kelompokk hingga teman-temanku yang dating
kerumah. Bisa dibilang aku sangat terbuka dengan mama. Kecuali mengenai
perasaan. Hehe. Yah malu lah kalau menceritakan tentang perasaan sama mama.
Tapi walaupun gak diceritain aku pikir mama mungkin tau. Yaahh Cuma feeling
ajha. Telepati mama kuat tau!
Aku pun rindu papa. Sosok lelaki yang super dingin. Aku gak
pernah becanda sama papa. Padahal sifatku sangat mirip dengannya. Entah mengapa
sejak aku punya adik, hubunganku perlahan renggang. Aku tak lagi duduk
dipangkuannya ataupun sarapan bersama. Sekarang semua berbeda. Hanya bila aku
punya perlu kemudian berbicara dengan papa, begitupun sebaliknya. Obrolan kami
seminggu dapat dihitung dengan jemari. Yah walapun begitu, aku tetap
merindukannya. Aku rindu deru motornya, tatapan matanya yang tajam, suaranya
yang tegas, dan semua tentangnya. Aku rindu. Sungguh!
“untuk keluargaku yang masih nomaden. Aku rindu kalian. Aku
saying dan bangga pada kalian. Tetap jadi keluarga hebatku hingga aku bisa
membahagiakan kalian. Papa. Mama. Adik-adikku sekalian. J”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar