Senin, 21 September 2015

Good Night My Best Realese

Good night my best realese. How are you? Aku merasa semakin kesepian. Aku ingin sekali mengeluarkan semua keluh kesahku. Kau tau, kadang aku lebih membutuhkan lawan daripada kawan. Bukan hanya yang sekedar mendengarkanku bercerita panjang lebar tapi juga bisa berpendapat tentang pembicaraanku. Aku sering mengadu pada Tuhan, aku juga sering meminta. Aku sampai tersedu-sedu ketika menceritakan semuanya pada-Nya. Aku bersyukur Dia memberiku kemampuan untuk menyukai menulis. Aku tak bisa mengatakan ini adalah bakat. Karena tulisanku masih jauh dari kata baik. Tapi aku bersyukur. Tuhan tau aku akan kesepian makanya dia kirimkan anugrah ini kepadaku. Dia memang tau mana yang lebih baik untuk hamba-Nya.
God, aku kembali merasa kosong beberapa hari ini. Aku… aku… rindu suasana rumah. Aku butuh orang yang bisa membuatku merasa lepas. Bebas tertawa dan becanda. Aku rindu adik-adikku. Iqbal. Bocah ingusan yang dalam proses puber. Aku gak sempat mengikuti perkembangan pubernya. Apa sekarang suaranya sudah berubah? Apa sudah ada lawan jenis yang menarik perhatiannya? Apa dia masih suka ngambek gak jelas? Apa dia masih jahil? Ah bocah gesrek itu, aku kangen bangett. Ilham. Adik paling kece. Kadang-kadang suka jahil. Tapi dibalik itu, dia paling suka berbagi. Dia gak bakal membiarkan orang disekitarnya gak kebagian makanan yang dia punya, bahkan dia rela menyimpankan bagian untuk kakaknya bila si kakak sedang gak ada. Aku bangga punya adik seperti dia. Aku harap hingga dewasa nanti sifatnya itu masih melekat pada dirinya. Itu kedua adik lelakiku yang gak pernah berhenti membuatku senang berada dirumah walau mereka suka berkeliaran dan gak betah sama yang namanya rumah, kecuali bila laptopku sudah beranak film baru. Baru tuh semangat 45 berada dirumah dengan laptop. Dan untuk adik perempuanku aku gak perlu ceritakan. Tapi sungguh, I miss you both.
Aku rindu mama. Rindu menceritakan semua kejadian yang aku alami setiap hari. Mulai dari kerja kelompokk hingga teman-temanku yang dating kerumah. Bisa dibilang aku sangat terbuka dengan mama. Kecuali mengenai perasaan. Hehe. Yah malu lah kalau menceritakan tentang perasaan sama mama. Tapi walaupun gak diceritain aku pikir mama mungkin tau. Yaahh Cuma feeling ajha. Telepati mama kuat tau!
Aku pun rindu papa. Sosok lelaki yang super dingin. Aku gak pernah becanda sama papa. Padahal sifatku sangat mirip dengannya. Entah mengapa sejak aku punya adik, hubunganku perlahan renggang. Aku tak lagi duduk dipangkuannya ataupun sarapan bersama. Sekarang semua berbeda. Hanya bila aku punya perlu kemudian berbicara dengan papa, begitupun sebaliknya. Obrolan kami seminggu dapat dihitung dengan jemari. Yah walapun begitu, aku tetap merindukannya. Aku rindu deru motornya, tatapan matanya yang tajam, suaranya yang tegas, dan semua tentangnya. Aku rindu. Sungguh!



“untuk keluargaku yang masih nomaden. Aku rindu kalian. Aku saying dan bangga pada kalian. Tetap jadi keluarga hebatku hingga aku bisa membahagiakan kalian. Papa. Mama. Adik-adikku sekalian. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar