Minggu, 17 April 2016

I'm Apologize, Hon!!

Langit begitu gelap ketika kita tengah bercakap dalam chattingan. Aku merasa begitu senang bila kita seperti ini. tengah percakapan itu, muncul chatting salah satu teman SMAku. Tiba-tiba dia mengajakku keluar dan akan langsung menuju kerumah. Aku belum makan dan mandi. Seketika, bayangmu muncul dengan segala amarahmu ketika tahu hal seperti ini. Baru saja aku akan mengatakan pada temanku bahwa aku tidak bisa menyiyakan ajakannya, dia sudah membalas lagi chattingku sebelumnya dengan mengatakan, "gue udah didepan". Lantas, apa yang harus aku lakukan? Tidak sopan bila ku menolak ajakannya dengan cahtting sedang dia sudah didepan rumah. Aku mencoba menjelaskannya dulu padamu, namun tidak kau gubris sama sekali. kau elakkan semua penjelasan yang kau anggap alasan yang ku buat-buat agar bisa kau izinkan pergi dengan temanku itu. Setelah itu, aku pun melangkahkan kaki keluar dan mencoba memberitahukan temanku bahwa aku tidak bisa, namun dia hanya mereponnya dengan tertawa karena alasanku. Dia hanya mengatakan, "ayolah, gue udah jauh-jauh nih!!" . Lalu aku bisa apa sayang? Bukannya aku tak memilihmu, hanya saja keadaan saat itu benar-benar tidak memungkinkan untuk ku tolak ajakan temanku.

Perasaanku begitu gelisah selama perjalanan pulang, aku hanya 30 menit diluar tapi aku merasa seperti berjam-jam. Aku terus memikirkan bagaimana sikapmu saat marah. Untungnya temanku pun buru-buru sehingga tidak sempat mengantarku pulang. Namun tetap saja, cepat atau lamanya aku diluar kamu akan tetap sama dengan amarahmu yang begitu menyakiti perasaan. Aku tahu, kau pasti lebih sakit hati dibanding aku. Kau pasti merasa diabaikan karena aku lebih memilih temanku yang sudah didepan rumah ketimbang laranganmu untuk keluar bersama teman-teman lelakiku.

Aku selalu ingat apa yang kamu katakan waktu itu. Bagaimana kata murahan itu muncul dengan mudahnya dari mulutku. Mataku seketika memanas saat itu. Aku tak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Tak pernah sekalipun. Hanya kamu yang seperti itu. Baru kamu. Namun keadaanku tadi tidak memungkinkan sayang. Seandainya kamu diposisiku, apa kamu akan menolak ajakan temanmu yang udah nunggu lama didepan rumah kamu? apa kamu akan seperti itu? Bila tidak, berarti kita tak sama.

Sejenak pun aku berpikir, bahwa aku egois dan tak berperasaan. Aku lebih memilih teman dibanding pasanganku sendiri. Aku tidak menghargai perasaanmu. Aku begitu jahat membuatmu tidak menjadi pilihanku. Maafkan aku. Maafkan aku. Kau menamparku dengan kalimat pedasmu, kau mampu menyadarkanku bahwa aku seorang wanita yang sangat egois untuk kamu miliki. Aku tidak pernah merasa sangat bersalah seperti ini kepada seseorang. Biasanya, bila melakukan kesalahan, yang aku pikir hanya meminta maaf. Setelahnya tidak lagi kupikirkan, bagaimana respon dan apa jawabannya tidak kupikir lagi. Tapi, tidak ku lakukan hal itu padamu. Aku begitu takut kau tidak akan memaafkanku, tidak ada sedikitpun terlintas dibenakku bahwa ini akan baik-baik saja. Aku terus berpikir bahwa ini akan menjadi masalah besar, memakan waktu yang sangat lama, mengganggu konsentrasi dan emosiku, juga mengganggu pernapasanku.

Dadaku sesak ketika isi chatting kita tidak lagi berisi. Kosong. Tiba-tiba saja oksigen sangat sulit masuk di paru-paruku. Mataku memanas menahan tangis akan amarahmu. Sungguh! Sekali lagi. Ini sikap yang menjijikkan yang pernah aku lakukan. Aku seperti kehilangan negara. Mengapa harus begitu sakit? Kan aku yang salah! How could it be like this? Why I cry? Why my chest feel sick? Why? Oh Hon, i'm aplogize. Is it too late to say sorry, huh? I hope i'm not late.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar