Kamis, 24 Maret 2016. 08:15 PM
Tepat disaat sehari setelah film
paling ditunggu Superman VS Batman : Dawn Of Justice dirilis diseluruh bioskop
Indonesia dan tentu saja aku tidak akan ketinggalan. Aku sengaja kembali
menarik jari-jariku untuk mencoba mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan
merangkainya dengan hati-hati hingga tak ada satu jenis perasaan pun yang
tertinggal. Mungkin akan baik bila ku ungkapkan satu per satu bah materi yang
akan ku presentasikan kepada diriku di esok hari nanti.
SAKIT
Lima huruf pertama yang sangat
mengawali perasaanku. Aku merasa sakit saat melihat isi handphonemu tadi. Aku
merasa sakit saat tahu ada namamu di salah satu status teman medsosmu. Aku
sakit saat tahu kau seperti berpikir ketika mereka (wanita) yang mungkin
penggemarmu menanyakan sedang bersama siapa kau saat ini (saat bersamaku
tentunya). Aku merasa sakit saat tahu jawaban yang kamu beri harus kamu
tanyakan dulu padaku, tentu saja sayang semuanya ku serahkan padamu. Ku
serahkan padamu eksistensiku yang entah kau anggap apa. Pengganggu? Hantu?
Pelampiasmu? Patung? Ahhh entahlah. Aku kembali merasa sakit ketika memikirkan
posisiku terhadapmu. Saat ini aku bertanya, apa hanya aku yang merasa bahwa aku
istimewa untukmu? Apa hanya aku? Apa kau memperlakukanku seperti itu disaat
hanya ada kita? Kita berdua? Mengistimewakanku? Seolah aku satu-satunya. Oh
sayang, perasaanku begitu sakit saat ini. Aku tak tahu harus menceritakannya
kepada siapa dan dimana. Bisa kau beriku saran? Saran yang paling ampuh sayang!
Tolong!
BINGUNG
Itu perasaanku selanjutnya. Entah
harus seperti apa sikapku padamu. Menurutmu aku harus bagaimana? Oh aku lupa
sayang, pertanyaanku seperti itu takkan pernah kau jawab walau ku minta dengan
berlutut sekalipun. Kau tahu sayang, kadang aku seperti manusia tanpa arah
ketika denganmu. Tak tahu harus apa. Entah harus ku percaya atau tidak pada
perkataanmu tadi yang tidak menyukai angka “satu”. Satu pacar. Satu gebetan.
Satu selingkuhan. Satu istri. Satu handphone. Dan satu lainnya. Kau pasti
melihat jelas bagaimana responku tadi, kan? Aku memalingkan wajah lalu diam
tanpa memikirkan apa-apa selain bertanya pada diriku sendiri, “aku harus apa?,
percayakah?”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Bagiku, semua yang kamu
katakan adalah benar kecuali yang buruk bagiku dan bagimu. Pahami sajalah. Saat
perasaan ini tengah memacu perasaanku, aku merasa seperti ada yang panas di
mataku saat ku beranikan diri untuk bertanya padamu kebenaran apa yang kamu
katakana barusan tentang “satu”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Aku ingin
mendiamimu, ingin menunjukkan kesakitan hatiku saat tahu hal itu, tapi aku pun
tak ingin melihatmu sedih karenaku. Tidakkah aku egois ketika harus ku
prioritaskan perasaan sakitku yang mungkin saja berlebihan didepanmu? Tidakkah?
Jawab sayang. Aku membutuhkannya.
KESAL
Maaf bila aku kesal padamu. Namun
sungguh kekesalanku lebih dominan kepada diriku sendiri. Kamu hanya memperoleh
kesal level pertamaku. Kesal saat kau pasang wajah tak berdosamu. Seolah yang
kau lakukan tidak terlalu salah. What? Tidak terlalu salah? Atau bahkan tidak
salah sama sekali. Mungkin saja. Aku kesal saat suasana hatiku tengah terbakar,
kamu malah asyik dengan handphonemu, lagi. Bahkan kau tertawa. Kau tertawa
sayang, saat didepanku. Didepanku yang tengah tak enak hati. Aku kesal padamu.
Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Aku kesal memberanikan diri untuk melihat
chattingmu dengan mereka penggemarmu. Aku kesal bertanya banyak soal “satu”
itu. aku kesal pada diriku sendiri yang tak mampu terus bersikap baik padamu. Aku
kesal. Aku kesal. Tolong aku, sayang.
?????
Bila saja dalam ketikan ini bisa ku
gunakan tanda capslock untuk tanda Tanya itu, mungkin akan kugunakan sayang.
Aku tak tahu mengapa kau seperti itu? apa itu kepribadianmu? Menebar pesona
dimana-mana sedang aku tak pernah kau pamer pesonamu. Hanya aku saja yang
terpesona terhadapmu. Kau memberlakukan mereka dengan baik dan sangat baik. kau
bercanda, tertawa, hingga merayu mereka. Sedang aku? Apa yang ku dapat?
Amarahmu. Kerasmu. Egomu. Tak mau kalah mu. Dan segalanya yang membuatku merasa
menjadi pasanganmu yang tak pernah membahagiakanmu. Aku mohon sayang, bila
memang aku hadir hanya sebagai bonekamu, katakan. Bila memang aku hadir hanya
pelampiasmu, katakan. Bila memang aku hadir hanya untuk mengimbangi kebahagiaanmu
untuk mereka dengan membuatmu sedih, katakana. Katakan saja sayang! Takkala aku
sudah terlanjur merasa seperti ini. Terlanjur basah oleh rasa sakit yang selalu
ku pendam sendiri. Tak apa sayang. Lagipula hanya aku yang merasakannya. Bila
memang menyakitiku adalah kesenanganmu, lakukan sayang. Aku percaya kau akan
berubah suatu saat. Satu yang aku
percaya. Kau akan berubah. Karena hidup selalu tentang sebab akibat.
*Ingin ku ceritakan semuanya padamu. Perasaanku. Sakitku.
Bimbangku Ingin ku bacakan padamu. Bila mau, baca saja sendiri. Aku siap malu.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar