Jumat, 08 April 2016

Tentang Rasa

Kamis, 24 Maret 2016. 08:15 PM
Tepat disaat sehari setelah film paling ditunggu Superman VS Batman : Dawn Of Justice dirilis diseluruh bioskop Indonesia dan tentu saja aku tidak akan ketinggalan. Aku sengaja kembali menarik jari-jariku untuk mencoba mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan merangkainya dengan hati-hati hingga tak ada satu jenis perasaan pun yang tertinggal. Mungkin akan baik bila ku ungkapkan satu per satu bah materi yang akan ku presentasikan kepada diriku di esok hari nanti.
SAKIT
Lima huruf pertama yang sangat mengawali perasaanku. Aku merasa sakit saat melihat isi handphonemu tadi. Aku merasa sakit saat tahu ada namamu di salah satu status teman medsosmu. Aku sakit saat tahu kau seperti berpikir ketika mereka (wanita) yang mungkin penggemarmu menanyakan sedang bersama siapa kau saat ini (saat bersamaku tentunya). Aku merasa sakit saat tahu jawaban yang kamu beri harus kamu tanyakan dulu padaku, tentu saja sayang semuanya ku serahkan padamu. Ku serahkan padamu eksistensiku yang entah kau anggap apa. Pengganggu? Hantu? Pelampiasmu? Patung? Ahhh entahlah. Aku kembali merasa sakit ketika memikirkan posisiku terhadapmu. Saat ini aku bertanya, apa hanya aku yang merasa bahwa aku istimewa untukmu? Apa hanya aku? Apa kau memperlakukanku seperti itu disaat hanya ada kita? Kita berdua? Mengistimewakanku? Seolah aku satu-satunya. Oh sayang, perasaanku begitu sakit saat ini. Aku tak tahu harus menceritakannya kepada siapa dan dimana. Bisa kau beriku saran? Saran yang paling ampuh sayang! Tolong!
BINGUNG
Itu perasaanku selanjutnya. Entah harus seperti apa sikapku padamu. Menurutmu aku harus bagaimana? Oh aku lupa sayang, pertanyaanku seperti itu takkan pernah kau jawab walau ku minta dengan berlutut sekalipun. Kau tahu sayang, kadang aku seperti manusia tanpa arah ketika denganmu. Tak tahu harus apa. Entah harus ku percaya atau tidak pada perkataanmu tadi yang tidak menyukai angka “satu”. Satu pacar. Satu gebetan. Satu selingkuhan. Satu istri. Satu handphone. Dan satu lainnya. Kau pasti melihat jelas bagaimana responku tadi, kan? Aku memalingkan wajah lalu diam tanpa memikirkan apa-apa selain bertanya pada diriku sendiri, “aku harus apa?, percayakah?”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Bagiku, semua yang kamu katakan adalah benar kecuali yang buruk bagiku dan bagimu. Pahami sajalah. Saat perasaan ini tengah memacu perasaanku, aku merasa seperti ada yang panas di mataku saat ku beranikan diri untuk bertanya padamu kebenaran apa yang kamu katakana barusan tentang “satu”. Aku bingung sayang. Sangat bingung. Aku ingin mendiamimu, ingin menunjukkan kesakitan hatiku saat tahu hal itu, tapi aku pun tak ingin melihatmu sedih karenaku. Tidakkah aku egois ketika harus ku prioritaskan perasaan sakitku yang mungkin saja berlebihan didepanmu? Tidakkah? Jawab sayang. Aku membutuhkannya.
KESAL
Maaf bila aku kesal padamu. Namun sungguh kekesalanku lebih dominan kepada diriku sendiri. Kamu hanya memperoleh kesal level pertamaku. Kesal saat kau pasang wajah tak berdosamu. Seolah yang kau lakukan tidak terlalu salah. What? Tidak terlalu salah? Atau bahkan tidak salah sama sekali. Mungkin saja. Aku kesal saat suasana hatiku tengah terbakar, kamu malah asyik dengan handphonemu, lagi. Bahkan kau tertawa. Kau tertawa sayang, saat didepanku. Didepanku yang tengah tak enak hati. Aku kesal padamu. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Aku kesal memberanikan diri untuk melihat chattingmu dengan mereka penggemarmu. Aku kesal bertanya banyak soal “satu” itu. aku kesal pada diriku sendiri yang tak mampu terus bersikap baik padamu. Aku kesal. Aku kesal. Tolong aku, sayang.
?????
Bila saja dalam ketikan ini bisa ku gunakan tanda capslock untuk tanda Tanya itu, mungkin akan kugunakan sayang. Aku tak tahu mengapa kau seperti itu? apa itu kepribadianmu? Menebar pesona dimana-mana sedang aku tak pernah kau pamer pesonamu. Hanya aku saja yang terpesona terhadapmu. Kau memberlakukan mereka dengan baik dan sangat baik. kau bercanda, tertawa, hingga merayu mereka. Sedang aku? Apa yang ku dapat? Amarahmu. Kerasmu. Egomu. Tak mau kalah mu. Dan segalanya yang membuatku merasa menjadi pasanganmu yang tak pernah membahagiakanmu. Aku mohon sayang, bila memang aku hadir hanya sebagai bonekamu, katakan. Bila memang aku hadir hanya pelampiasmu, katakan. Bila memang aku hadir hanya untuk mengimbangi kebahagiaanmu untuk mereka dengan membuatmu sedih, katakana. Katakan saja sayang! Takkala aku sudah terlanjur merasa seperti ini. Terlanjur basah oleh rasa sakit yang selalu ku pendam sendiri. Tak apa sayang. Lagipula hanya aku yang merasakannya. Bila memang menyakitiku adalah kesenanganmu, lakukan sayang. Aku percaya kau akan berubah suatu saat. Satu yang aku  percaya. Kau akan berubah. Karena hidup selalu tentang sebab akibat.

*Ingin ku ceritakan semuanya padamu. Perasaanku. Sakitku. Bimbangku Ingin ku bacakan padamu. Bila mau, baca saja sendiri. Aku siap malu.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar