Sabtu, 19 September 2015

A story : Dibalik Hujan

Stories : March 24 2015 on 02:40 pm
Jalan begitu sepi ketika kebiasaanku berdiri depan jendelan kamarku rutin aku lakukan. Bosan rasanya tapi apa daya, penyakit yang aku derita membuatku tak dapat berkutik. Hanya dikamar. Memutihkan tubuh, melemahkan fisik karena jarang beraktivitas dan terkena sinar matahari. Aku rindu dengan semua kegiatan luar yang biasa aku lakukan dulu. Iya, aku rindu akan hal itu. Sejenak aku terlarut dalam lamunan membosankan yang tak pernah tak ku pikirkan. Semua lamunan hilang ketika ku lihat dia lewat. Tas coklat andalannya, sepatu converse, gaya rambut yang sederhana juga tampilan yang sederhananya membuatku tak pernah bosan memperhatikannya, setiap hari aku melihatnya seperti itu. Dan setiap hari pula ku kagumi gadis manis itu. Aku suka melihatnya ketika dia jalan sambil bernyanyi kecil, kadang dia suka berbicara sendiri. Walau tak ku dengar apa yang ia katakan namun aku tau bahwa ia tengah berbicara.
“ma, Ais minta kamera dong.” Rengekku.
“untuk apa nak?” Tanya mama antusias.
“gak untuk apa-apa sih. Cuma biar gak bosen ajha, ada yang nemenin.” Jawabku.
“oh yaudah nanti mama ajakin teman atau sepupu kamu ajha kesini yah?” usul mama.
“Ais mau kamera mama.” Tegasku pada mama.
Dan akhirnya mama mengalah dan memberikanku kamera. Aku suka mengambil gambar melalui kamera. Itu menjadi hobiku selain membaca dan mendengar music. Tak ada kerjaan lain yang dapat dikerjakan oleh penderita Pleuritis, penyakit yang menyerang selaput paru-paru. Aku duduk kembali ditempat biasa aku menunggu gadis itu kembali dan lewat depan rumah. Hingga kurang lebih pukul 02:45, dia muncul juga. Namun raut wajah yang ia pancarkan sungguh berbeda. Ada apa dengannya? Apa ada yang menyakitinya? Siapa? Mengapa?
Entah sihir seperti apa yang telah ia berikan padaku. Setiap melihatnya, perasaan ini begitu bahagia. Berbagai macam kalimat indah muncul dengan sendirinya tercipta dalam lubuk. Berkatnya, hariku tak begitu membosankan. Berkatnya aku tersenyum. Berkatnya aku sedih dan berpikir. Berkatnya aku tertawa sendiri. Berkatnya pula aku belajar untuk mencintai dalam diam. Iya berkatnya.
Hari demi hari hingga bulan berlalu begitu cepat. Semua galeri fotoku dipenuhi oleh penampakannya yang begitu sederhana dan sangat mengesankan. Hingga ketika sore yang mendung itu menyapa, saat kameraku mengarah padanya. Saat tengah fous memotretnya, tiba-tiba wajah manis itu mendapatiku tengah memotretnya. Ia palingkan kepalanya keatas, dilantai dua rumahku tepat kearahku. Seketika, aku tak berkutik dan hanya diam membisu. Ku coba tersenyum namun bibir ini begitu ragu untuk melakukannya. Oh ada apa denganku? Jantungku berdetak 5x lebih cepat ketika wajah itu tepat didepanku meski dari jarak yang jauh. Oh tuhan, ciptaan-Mu yang satu ini memang begitu indah. Begitu indah hingga membuatku seperti patung dalam beberapa menit. Matanya tajam namun hangat, ia hanya tersenyum padaku lalu melanjutkan tapakan kakinya hingga hilang dari hadapanku. Hati ini begitu berdebar juga bahagia. Takkan ku lupa senyum itu. Takkan pernah. Terimakasih Sugar.
Mama hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya yang satu ini. Ketika didalam kamarku dipenuhi foto gadis itu, gambar-gambar senyum gadis itu, kalimat inspirasi tentang gadis itu, juga pertanyaan besar yang aku tulis di dinding kamarku, “what’s her name? maybe sugar J.” Mama mengelusku dan menangis dalam dekapannya. Aku hanya tersenyum menguatkannya. Mungkin beliau sedih, melihat anaknya yang sakitnya makin parah. Sabar ma, ujian akan segera berakhir. Semua kerepotan yang aku buat akan segera berakhir. Hidupmu takkan disibukkan lagi olehku yang harus selalu minum obat yang banyak setiap hari. Sabarlah ma, sedikit lagi. Aku tersenyum lalu mencium pipi mama dengan tulus.
“love you mom.” Kataku pelan dan tulus.
“love you more, Ais.” Balas mama tenang.
Hingga hari penentuan itu tiba. Hari dimana segalanya akan berakhir dan aku sangat siap untuk mengakhirinya. Dokter pribadiku dating mengontrol dan menyatakan keadaanku makin membaik dalam beberapa minggu ini. Mama sangat senang. Memelukku lalu menciumku beberapa kali. Aku hanya tersenyum dan membalas pelukan mama. Aku saying mama. Terimakasih telah sabar mendampingi,meski ku telah tak remaja lagi.
Mama menyuruhku istirahat dan ku iyakan. Sambil istirahat, ku tunggu alarm 02:45 ku berdering. Tak sabar ingin melihatnya. Aku rindu dengan gaya berjalannya. Aku rindu melihatnya berjalan hingga hanya belakangnya saja yang terlihat. Iya aku rindu dia, setiap hari. Tak pernah bosan. Sugar itu membuat semut lemah ini semakin kuat dan semakin kecanduan. I love you sugar. Love you in silent and sink in big hope.
Namun hingga alarmku berbunyi berkali-kali, ia tak Nampak juga. Kemana dia? Tak seperti biasanya seperti ini. Ada apa dengannya? Lindungi dia tuhan. Jagalah dia. Jagalah dia hingga aku dapat melihatnya kembali dan mungkin takkan lagi. Hingga ku lelah menunggu dan membuatku ketiduran. Dan aku bermimpi. Indah sekali. Aku bertemu sugar. Aku duduk tepat disampingnya. Hanya berlangsung beberapa menit, mimpiku diganggu oleh cahaya putih yang menyilaukan. Aku kehilangan sugar dan kini aku tengah berjalan menuju cahaya putih itu. Begitu ringan langkah kaki ini. Aku tersenyum dan saat aku membalikkan tubuh, ku lihat mama tengah melambaikan tangannya padaku, akupun membalasnya. Aku tersenyum ketika mama berseru “beri salam pada papamu disana. Mama akan menyusul nanti.” Tapi, apa maksud mama? Aku tak paham. Aku terus berjalan menuju cahaya itu. Hingga tinggal selangkah lagi, aku mendengar mama berteriak.
“Ais. Ais. Ais. Bangun nak, bangun. Bangun nak. Jangan tinggalin mama. Mama mohon. AAAIISS!!!” teriak mama dengan kerasnya.
Namun aku terlanjur melangkah kearah cahaya itu. Dan saat tiba disana, aku mendapati diriku tengah terbang. Ku hirup udara bebas itu namun tak kurasakan napas dan detak jantungku. Ku dapati diriku berdiri didepan teras rumahku. Aku masuk kekamar mama, kakak lalu kamarku. Ku melihat raga ku sendiri tengah terbaring pucat dengan wajah tersenyum sedangkan mama hanya menangis diantara keluargaku yang kini mulai hadir karena mendengar kabarku.
Pukul 05:00 aku melihat sugar tengah berjalan. Akhirnya aku melihatmu juga sugar. Aku rindu padamu. Ku dekati dia. Jarakku hanya beberapa centi saja dari tubuhnya. Aku sangat ingin mengelus rambut indahnya. Namun apa daya, kini aku hanyalah selapis roh yang tembus pandang. Padahal aku belum sempat tahu siapa nama sugar dan kegiatannya sehari-hari.
Hingga aku dimakamkan, rohku masih saja berkeliaran. Saat aku kembali kekamarku, ku dapati sugar dan mama ada disana. Mama menunjukkan semua koleksi galeriku tentangnya. Semuan rahasiaku kini terungkap didepan sugar. Akh, mama. Kau membuatku malu. Lalu ku lihat sugar menangis saat melihat fotoku diatas meja belajarku.
“kamu bodoh. Kenapa tak kau kenalkan dirimu padaku. Kenapa tak kau beritahu saja apa yang kamu rasakan? Padahal aku rasakan hal yang sama. Aku menyadari perasaanku saat kau suka memotretku. Aku tahu itu Ais. Takkan ku lupa kau Rayes Ilham Ramadhan.” Lirih sugar sambil mengelus fotoku.

Aku bahagia. Terimakasih tuhan. Ternyata dia membalas perasaanku. Meski terlambat. 

1 komentar: