Minggu, 25 Oktober 2015

Very Missing Her

Ini adalah puncak perasaan didalam dadaku begitu menggebu. Malam ini ketika kata itu keluar, airmataku telah siap melompat dari ujung pelopakku. Mataku begitu panas menahan pedihnya rasa rindu yang meletup-letup ini. Sudah ku coba untuk mengungkapkannya pada ibuku. Namun, setiap kalimat rindu akan tersirat dari lidahku seketika airmataku langsung membuyarkan kalimatku. Seolah-olah dia telah mewakili semua kalimat yang akan aku keluarkan.Ibu. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku yakin inilah cinta yang sesungguhnya bu. Cinta yang murni tanpa gono-gini. Tanpa alasan. Tanpa syarat. Tanpa batas. Tanpa kata. Aku cinta denganmu bu. Dengan sangat. Akupun rindu padamu bu. Dengan sangat. Bahkan aku membutuhkanmu saat ini juga bu. Dengan sangat. Hingga tulisan ini ku rangkai, para air hangat itu telah siap melompat keluar. Tapi aku menahannya. Entah apa tujuanku melakukannya. Padahal jika aku menangis pun ibu takkan bisa menghampiri lalu memelukku dengan hangatnya kasih ibu. Aku… Aku… Aku begitu merindukanmu bu. Aku rindu. Dengan sangat bu.Entah kapan lagi Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menghabiskan waktu yang begitu lama hanya untuk tertawa dan bercerita apa saja. Aku rindu akan hal itu bu. Bagaimana suara lembutmu mengeluarkan kalimat yang kadang membuatku geli. Ceritamu yang begitu membuatku tak bosan untuk mendengarnya walau telingaku telah lelah mendengarkannya ribuan kali. Aku rindu bagaimana ibu mengejekku ketika ada lagi hal konyol yang aku lakukan atau aku dapat. Aku rindu bagaimana ibu menasehatiku. Walaupun itu sangat salah, ibu tetap dengan sabar memberitahuku walau kadang nada bicara ibu sedikit meninggi. Aku rindu semua pada ibu. Aku rindu semua hal tentang ibu. Aku rindu dengan sangat kepadamu ibu. Sosok wanita tercantik yang sangat mirip denganku. Wanita yang bila berjalan denganku akan terlihat seperti adik dan kakak. Entah karena ibu yang terlihat muda atau aku yang terlihat tua. Akhh bodo amat lah! Intinya saat berjalan seperti itu, aku sangat senang bu. Aku terlihat terlalu sombong untuk memamerkanmu kepada dunia. Aku begitu bangga berjalan dengan ibu yang seperti kakakku.Aku terdiam sejenak ketika melihat makanan yang ibu kirimkan lagi untukku. Aku seperti terhantam batu karang yang tajam dan banyak. Perasaan rinduku tiba-tiba saja kembali meletup-letup dengan hebatnya. Mereka memenuhi semua kapasitas pikiran dan hatiku. Semuanya bertema ibu. Sosok luarbiasa ibu memenuhi seluruh sel dalam tubuhku. Bahkan sel yang mati sekalipun. Airmataku ikut membasahi pipiku. Turut meramaikan moment kerinduan ini. Ibu. Aku rindu. Rindu serindu rindunya. Rasanya ingin pulang saat ini juga. Belum lagi ketika malam minggu yang kalem kemarin, ibu menelponku di tengah malam dengan suara yang parau dan diikuti dengan batuk berdahakmu. Aku seperti ingin sekali lari kedapur mengambil air hangat untukmu, lalu mengusap-usap belakangmu agar ibu berhenti batuk. Aku ingin sekali bu. Sangat ingin. Tapi sayang, kita tengah berjauhan. Kita tengah LDR.
Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Denganmu ibu. J

Kamis, 15 Oktober 2015

Manusia Luarbiasa

Beberapa hari yang lalu seperti biasa aku mulai disibukkan mengayun tangan kiriku untuk memberhentikan angkot yang bersedia mengantarku hingga batas Makassar-Gowa, jarang yang mengiyakan permintaanku. Ini karena ada jalan yang tengah diperbaiki, sehingga menjadi pusat kemacetan setiap paginya. Pagi ini aku kuliah pukul 07.30, itu artinya sebelum pukul tujuh aku sudah harus berada diangkot. Sialnya, saat aku melihat dompetku malah tidak berisi. Rupanya dia kelaparan dan aku harus mengisinya. Berjalan cepat menuju ATM, berharap semoga sudah terbuka dan yah memang sudah terbuka. Aku bergerak cepat mengambil uang, lalu menuju Alfamart untuk menukar uang kecil dengan membeli minuman. Aku tak berhenti menatap jam ditanganku. Hamper setiap menit aku melakukannya, sangat terlihat bahwa aku tengah diburu waktu. Menunggu angkot sambil terus melihat jam dan tidak ada angkot yang lewat. Oh, thankyou God! Seketika itu pun seorang ibu dengan membonceng anaknya menghampiriku yang tengah kalap karena menunggu.
“mau ke kampus yah dek?” Tanya si ibu semangat.
Belum sempat ku menjawab lengkap pertanyaannya, dia langsung menawarkan tumpangan dan tersenyum lebar kepadaku. Aku menerima tawaran itu dengan sangat terbuka. Disaat aku bisa bersyukur kepada Tuhan karena membuatku menunggu, Dia pun menunjukkan kebesaran-Nya itu. Thankyou God! Once again.
Melaju cepat dengan motor matic, menyalip dengan lincah, mencoba menghindari jebakan kemacetan, aku akui ibu ini sangat mahir dalam hal ini. Aku tak perlu lagi khawatir dengan jam ku. Aku tersenyum lebar.
“jurusan apa dek?” Tanya si ibu tiba-tiba.
“eh, aqidah filsafat bu.” Jawabku
“oh. Fakultas apa?” Tanya ibu kembali.
“ushuluddin, bu.” Aku menjawabnya dengan sedikit teriak. Ini karena lagi di atas motor. Angin membawa separuh suara yang kita keluarkan.
Obrolan kami pun terus berlanjut. Mulai tempat tinggal, mengenai jurusan dan biayanya hingga akhirnya aku mengetahui bahwa sebenarnya si ibu adalah tukang ojek. Aku sempat kaget karena awalnya ku pikir aku akan mendapat tumpangan gratis seperti waktu itu, belum lagi masih ada anak kecil berusia sekitar 4tahun yang dia bawa, dan yang lebih membuatku kaget adalah ternyata dia pun memiliki seorang anak gadis yang tengah kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan Farmasi. Detakan jantungku terpacu, aku merinding mendengarnya bercerita tentang kehidupannya. Ini adalah yang pertama kali aku mendengar langsung cerita luarbiasa ini. Biasanya aku hanya mendengarnya melalui cerita orang lain. hati kecilku tersentuh. Ternyata memang ada orang diluar sana yang berjuang keras untuk pendidikan.
Aku belum sempat menanyakan nama ibu luarbiasa ini karena ceritanya meskipun kami sering menghabiskan waktu saat aku memutuskan untuk menjadi pelanggannya. Beliau adalah seorang janda beranak tiga. Anak pertamanya melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan Farmasi, salah satu mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan lulus jalur undangan. Aku terhantam keras oleh cerita tentang anaknya. Anak keduanya duduk dikelas 4 SD, inipun karena beasiswa, untuk anak terakhirnya masih menikmati masa bermainnya dan tidak jarang dia ikut si ibu mencari penumpang. Semenjak dua tahun, sibungsu sudah biasa menghabiskan waktunya diatas motor.
Aku belum tau banyak tentang ibu ini. Aku sangat ingin bertanya lebih banyak kepada beliau, hanya saja aku merasa waktu dan tempatnya kurang tepat. Aku merasa tidak sopan bila harus bertanya dengan suara yang harus dikeraskan ketika diatas motor. Aku pun sedikit canggung bila ingin menanyakan tentang privasinya, aku takut menyinggung perasaannya. Saat ibu mengatakan bahwa aku mesti bersyukur karena aku berasal dari keluarga mampu aku hanya bisa tersenyum. Aku tak mungkin menyela tuduhannya kepadaku. Aku hanya bisa beropini sendiri didalam hati. “aku pun berjuang disini. Orangtuaku pun bekerja keras untuk membiayaiku. Hanya saja aku memang lebih beruntung karena orangtuaku yang masih lengkap.” Hatiku berkicau.

Untuk dilain kesempatan akan ku usahakan untuk menggali lebih banyak tentangnya. Seorang ibu luarbiasa. Tunggulah sebentar,bu! Bersabarlah! Kehidupanmu akan berubah jadi lebih baik. aku percaya itu. Itu doaku sekarang dan nanti. Doa dan ceritaku mengiringi perjalanan penuh pembelajaran milikmu. Terimakasih banyak untuk semuanya. Membuatku semakin sadar dan semakin terpacu untuk mencapai tujuanku.

Senin, 21 September 2015

Good Night My Best Realese

Good night my best realese. How are you? Aku merasa semakin kesepian. Aku ingin sekali mengeluarkan semua keluh kesahku. Kau tau, kadang aku lebih membutuhkan lawan daripada kawan. Bukan hanya yang sekedar mendengarkanku bercerita panjang lebar tapi juga bisa berpendapat tentang pembicaraanku. Aku sering mengadu pada Tuhan, aku juga sering meminta. Aku sampai tersedu-sedu ketika menceritakan semuanya pada-Nya. Aku bersyukur Dia memberiku kemampuan untuk menyukai menulis. Aku tak bisa mengatakan ini adalah bakat. Karena tulisanku masih jauh dari kata baik. Tapi aku bersyukur. Tuhan tau aku akan kesepian makanya dia kirimkan anugrah ini kepadaku. Dia memang tau mana yang lebih baik untuk hamba-Nya.
God, aku kembali merasa kosong beberapa hari ini. Aku… aku… rindu suasana rumah. Aku butuh orang yang bisa membuatku merasa lepas. Bebas tertawa dan becanda. Aku rindu adik-adikku. Iqbal. Bocah ingusan yang dalam proses puber. Aku gak sempat mengikuti perkembangan pubernya. Apa sekarang suaranya sudah berubah? Apa sudah ada lawan jenis yang menarik perhatiannya? Apa dia masih suka ngambek gak jelas? Apa dia masih jahil? Ah bocah gesrek itu, aku kangen bangett. Ilham. Adik paling kece. Kadang-kadang suka jahil. Tapi dibalik itu, dia paling suka berbagi. Dia gak bakal membiarkan orang disekitarnya gak kebagian makanan yang dia punya, bahkan dia rela menyimpankan bagian untuk kakaknya bila si kakak sedang gak ada. Aku bangga punya adik seperti dia. Aku harap hingga dewasa nanti sifatnya itu masih melekat pada dirinya. Itu kedua adik lelakiku yang gak pernah berhenti membuatku senang berada dirumah walau mereka suka berkeliaran dan gak betah sama yang namanya rumah, kecuali bila laptopku sudah beranak film baru. Baru tuh semangat 45 berada dirumah dengan laptop. Dan untuk adik perempuanku aku gak perlu ceritakan. Tapi sungguh, I miss you both.
Aku rindu mama. Rindu menceritakan semua kejadian yang aku alami setiap hari. Mulai dari kerja kelompokk hingga teman-temanku yang dating kerumah. Bisa dibilang aku sangat terbuka dengan mama. Kecuali mengenai perasaan. Hehe. Yah malu lah kalau menceritakan tentang perasaan sama mama. Tapi walaupun gak diceritain aku pikir mama mungkin tau. Yaahh Cuma feeling ajha. Telepati mama kuat tau!
Aku pun rindu papa. Sosok lelaki yang super dingin. Aku gak pernah becanda sama papa. Padahal sifatku sangat mirip dengannya. Entah mengapa sejak aku punya adik, hubunganku perlahan renggang. Aku tak lagi duduk dipangkuannya ataupun sarapan bersama. Sekarang semua berbeda. Hanya bila aku punya perlu kemudian berbicara dengan papa, begitupun sebaliknya. Obrolan kami seminggu dapat dihitung dengan jemari. Yah walapun begitu, aku tetap merindukannya. Aku rindu deru motornya, tatapan matanya yang tajam, suaranya yang tegas, dan semua tentangnya. Aku rindu. Sungguh!



“untuk keluargaku yang masih nomaden. Aku rindu kalian. Aku saying dan bangga pada kalian. Tetap jadi keluarga hebatku hingga aku bisa membahagiakan kalian. Papa. Mama. Adik-adikku sekalian. J

Sabtu, 19 September 2015

A story : Dibalik Hujan

Stories : March 24 2015 on 02:40 pm
Jalan begitu sepi ketika kebiasaanku berdiri depan jendelan kamarku rutin aku lakukan. Bosan rasanya tapi apa daya, penyakit yang aku derita membuatku tak dapat berkutik. Hanya dikamar. Memutihkan tubuh, melemahkan fisik karena jarang beraktivitas dan terkena sinar matahari. Aku rindu dengan semua kegiatan luar yang biasa aku lakukan dulu. Iya, aku rindu akan hal itu. Sejenak aku terlarut dalam lamunan membosankan yang tak pernah tak ku pikirkan. Semua lamunan hilang ketika ku lihat dia lewat. Tas coklat andalannya, sepatu converse, gaya rambut yang sederhana juga tampilan yang sederhananya membuatku tak pernah bosan memperhatikannya, setiap hari aku melihatnya seperti itu. Dan setiap hari pula ku kagumi gadis manis itu. Aku suka melihatnya ketika dia jalan sambil bernyanyi kecil, kadang dia suka berbicara sendiri. Walau tak ku dengar apa yang ia katakan namun aku tau bahwa ia tengah berbicara.
“ma, Ais minta kamera dong.” Rengekku.
“untuk apa nak?” Tanya mama antusias.
“gak untuk apa-apa sih. Cuma biar gak bosen ajha, ada yang nemenin.” Jawabku.
“oh yaudah nanti mama ajakin teman atau sepupu kamu ajha kesini yah?” usul mama.
“Ais mau kamera mama.” Tegasku pada mama.
Dan akhirnya mama mengalah dan memberikanku kamera. Aku suka mengambil gambar melalui kamera. Itu menjadi hobiku selain membaca dan mendengar music. Tak ada kerjaan lain yang dapat dikerjakan oleh penderita Pleuritis, penyakit yang menyerang selaput paru-paru. Aku duduk kembali ditempat biasa aku menunggu gadis itu kembali dan lewat depan rumah. Hingga kurang lebih pukul 02:45, dia muncul juga. Namun raut wajah yang ia pancarkan sungguh berbeda. Ada apa dengannya? Apa ada yang menyakitinya? Siapa? Mengapa?
Entah sihir seperti apa yang telah ia berikan padaku. Setiap melihatnya, perasaan ini begitu bahagia. Berbagai macam kalimat indah muncul dengan sendirinya tercipta dalam lubuk. Berkatnya, hariku tak begitu membosankan. Berkatnya aku tersenyum. Berkatnya aku sedih dan berpikir. Berkatnya aku tertawa sendiri. Berkatnya pula aku belajar untuk mencintai dalam diam. Iya berkatnya.
Hari demi hari hingga bulan berlalu begitu cepat. Semua galeri fotoku dipenuhi oleh penampakannya yang begitu sederhana dan sangat mengesankan. Hingga ketika sore yang mendung itu menyapa, saat kameraku mengarah padanya. Saat tengah fous memotretnya, tiba-tiba wajah manis itu mendapatiku tengah memotretnya. Ia palingkan kepalanya keatas, dilantai dua rumahku tepat kearahku. Seketika, aku tak berkutik dan hanya diam membisu. Ku coba tersenyum namun bibir ini begitu ragu untuk melakukannya. Oh ada apa denganku? Jantungku berdetak 5x lebih cepat ketika wajah itu tepat didepanku meski dari jarak yang jauh. Oh tuhan, ciptaan-Mu yang satu ini memang begitu indah. Begitu indah hingga membuatku seperti patung dalam beberapa menit. Matanya tajam namun hangat, ia hanya tersenyum padaku lalu melanjutkan tapakan kakinya hingga hilang dari hadapanku. Hati ini begitu berdebar juga bahagia. Takkan ku lupa senyum itu. Takkan pernah. Terimakasih Sugar.
Mama hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya yang satu ini. Ketika didalam kamarku dipenuhi foto gadis itu, gambar-gambar senyum gadis itu, kalimat inspirasi tentang gadis itu, juga pertanyaan besar yang aku tulis di dinding kamarku, “what’s her name? maybe sugar J.” Mama mengelusku dan menangis dalam dekapannya. Aku hanya tersenyum menguatkannya. Mungkin beliau sedih, melihat anaknya yang sakitnya makin parah. Sabar ma, ujian akan segera berakhir. Semua kerepotan yang aku buat akan segera berakhir. Hidupmu takkan disibukkan lagi olehku yang harus selalu minum obat yang banyak setiap hari. Sabarlah ma, sedikit lagi. Aku tersenyum lalu mencium pipi mama dengan tulus.
“love you mom.” Kataku pelan dan tulus.
“love you more, Ais.” Balas mama tenang.
Hingga hari penentuan itu tiba. Hari dimana segalanya akan berakhir dan aku sangat siap untuk mengakhirinya. Dokter pribadiku dating mengontrol dan menyatakan keadaanku makin membaik dalam beberapa minggu ini. Mama sangat senang. Memelukku lalu menciumku beberapa kali. Aku hanya tersenyum dan membalas pelukan mama. Aku saying mama. Terimakasih telah sabar mendampingi,meski ku telah tak remaja lagi.
Mama menyuruhku istirahat dan ku iyakan. Sambil istirahat, ku tunggu alarm 02:45 ku berdering. Tak sabar ingin melihatnya. Aku rindu dengan gaya berjalannya. Aku rindu melihatnya berjalan hingga hanya belakangnya saja yang terlihat. Iya aku rindu dia, setiap hari. Tak pernah bosan. Sugar itu membuat semut lemah ini semakin kuat dan semakin kecanduan. I love you sugar. Love you in silent and sink in big hope.
Namun hingga alarmku berbunyi berkali-kali, ia tak Nampak juga. Kemana dia? Tak seperti biasanya seperti ini. Ada apa dengannya? Lindungi dia tuhan. Jagalah dia. Jagalah dia hingga aku dapat melihatnya kembali dan mungkin takkan lagi. Hingga ku lelah menunggu dan membuatku ketiduran. Dan aku bermimpi. Indah sekali. Aku bertemu sugar. Aku duduk tepat disampingnya. Hanya berlangsung beberapa menit, mimpiku diganggu oleh cahaya putih yang menyilaukan. Aku kehilangan sugar dan kini aku tengah berjalan menuju cahaya putih itu. Begitu ringan langkah kaki ini. Aku tersenyum dan saat aku membalikkan tubuh, ku lihat mama tengah melambaikan tangannya padaku, akupun membalasnya. Aku tersenyum ketika mama berseru “beri salam pada papamu disana. Mama akan menyusul nanti.” Tapi, apa maksud mama? Aku tak paham. Aku terus berjalan menuju cahaya itu. Hingga tinggal selangkah lagi, aku mendengar mama berteriak.
“Ais. Ais. Ais. Bangun nak, bangun. Bangun nak. Jangan tinggalin mama. Mama mohon. AAAIISS!!!” teriak mama dengan kerasnya.
Namun aku terlanjur melangkah kearah cahaya itu. Dan saat tiba disana, aku mendapati diriku tengah terbang. Ku hirup udara bebas itu namun tak kurasakan napas dan detak jantungku. Ku dapati diriku berdiri didepan teras rumahku. Aku masuk kekamar mama, kakak lalu kamarku. Ku melihat raga ku sendiri tengah terbaring pucat dengan wajah tersenyum sedangkan mama hanya menangis diantara keluargaku yang kini mulai hadir karena mendengar kabarku.
Pukul 05:00 aku melihat sugar tengah berjalan. Akhirnya aku melihatmu juga sugar. Aku rindu padamu. Ku dekati dia. Jarakku hanya beberapa centi saja dari tubuhnya. Aku sangat ingin mengelus rambut indahnya. Namun apa daya, kini aku hanyalah selapis roh yang tembus pandang. Padahal aku belum sempat tahu siapa nama sugar dan kegiatannya sehari-hari.
Hingga aku dimakamkan, rohku masih saja berkeliaran. Saat aku kembali kekamarku, ku dapati sugar dan mama ada disana. Mama menunjukkan semua koleksi galeriku tentangnya. Semuan rahasiaku kini terungkap didepan sugar. Akh, mama. Kau membuatku malu. Lalu ku lihat sugar menangis saat melihat fotoku diatas meja belajarku.
“kamu bodoh. Kenapa tak kau kenalkan dirimu padaku. Kenapa tak kau beritahu saja apa yang kamu rasakan? Padahal aku rasakan hal yang sama. Aku menyadari perasaanku saat kau suka memotretku. Aku tahu itu Ais. Takkan ku lupa kau Rayes Ilham Ramadhan.” Lirih sugar sambil mengelus fotoku.

Aku bahagia. Terimakasih tuhan. Ternyata dia membalas perasaanku. Meski terlambat. 

Minggu, 13 September 2015

Mom

Untuk yang kesekian kalinya, jari-jariku mulai tertarik untuk beriringan mengetik dan menyulam kumpulan konsonan dan vocal sehingga menjadi deretan kalimat yang nantinya bakal menyatu dan membentuk cerita. Cerita tentang kehidupanku. Cerita yang gak mesti aku ceritakan sama teman-teman aku. Hanya butuh Tuhan dan laptop ini. Itu lebih dari cukup. Oh ya, kabar dari mama pun aku perlukan. Aku suka cengeng kalau udah ngebahas hal ini. Dan pastilah kebanyakan orang diluar sanapun merasakan hal yang sama. Hanya satu hal yang selalu aku rasain saat aku jauh sama mama. Kangen. Just it. Tapi itu perasaan yang gak pernah aku ungkapkan langsung sama mama. Tak sekalipun.
Kadang aku suka merasa gak adil. Aku dengan mudahnya mengatakan rindu pada teman-temanku, pada orang yang special. Sedang ke mama. Oh ya ampun. Gak pernah. Miris banget. Setiap aku mencoba untuk mengatakan kata itu, rasanya sulit banget guys. Saat kata kata itu akan keluar, sekejap mulutku terhenti dengan sendirinya. Hatiku sesak. Paru-paruku tiba-tiba seperti gak nerima udara dari luar. Mataku pun mulai memanas, bahkan terkadang air hangat itu jatuh begitu saja. Iya, aku nangis. Aku payah. Baru juga mau saying-sayangan sama mama yah malah kayak gini. Karena hal ini pula, aku jadi suka mengganti topic pembicaraan. Gak peduli lagi cerita mama di telepon. Tapi terkadang aku Cuma dengerin cerita mama. Diam. Dengerin suaranya. Bayangin aku mendengar langsung ceritanya. Sambil melihat mimic wajah malaikatnya saat berbicara. Ah air hangat itu mulai menghampiri. Shit!!
Bukan hal ini sebenarnya yang ingin aku ungkapkan. Aku ingin menceritakan tentang keseharianku disini. Aku kesepian. Aku sendiri. Gak ada teman bicara. Itulah kenapa, aku jadi sering bicara sendiri. Menertawakan hal yang memang lucu. Tapi gak tau kenapa, paras mama langsung nongol. Sontak membuat jari-jariku mengetik tentang perasaan ku sama mama. Gak semuanya. Setidaknya ada. Dan itu sangat berarti buat aku.
Untuk mama. Maaf bila sebagai anak, aku terlalu pengecut untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Bahkan seumur hidup selama hamper 17tahun kita bersama, aku gak pernah bilang saying sama mama. Gak pernah sama sekali. Aku terlalu pengecut ma. Maaf. Mungkin ini yang dibilang cinta diam-diam. Meskipun mama pun sebenarnya tau. Tapi yaudahlah. Dan aku punya julukan untuk hal yang satu ini. Aku cinta diam-diam sama mama. Hahaha yayaya. Ini adalah cinta diam-diam terbaik yang pernah ada. Hai mama. Aku cinta diam-diam sama mama. I love u so much mom. More than my self. Mama urutan pertama dan terakhir dihatiku.

Note :

For my silent love. Suatu hari akan aku ungkapkan dengan utuh perasaanku. Saat ini aku tengah mengumpulkan tekad dan berusaha agar kelak pernyataan perasaanku tidak gagal. Gak garing.

Minggu, 19 April 2015

The Lazy Story

Cerita ini udah dicipatakan semenjak Abdurahim Arsyad tengah dibuahi ditenggorokan. Baru punya kesempatan untuk pamer soalnya kemarin bantuin kaka Urzula buat lurusin rambut yang kata kaka Abdur, singa liat saja singa bisa menangis. Hahaha *garing
Ini tentang keadaan penulis saat malam terakhir ujian nasional. Besoknya fisika dan Bahasa Inggris. Sumpah. Untuk malam ini saja. Rasanya malasnya pake banget pake sangat terus dibungkus pake apa aja yang ada tapi ditambahin karet 2 biar gokil malasnya. Entah jin jenis apalagi yang merasuk jiwa dan pikiran ini. Memang sih, sebenarnya penulis sangat butuh untuk di ruqyah. Dari jin mikroskopis sampai makroskopis gokil udah banyak, jin dari Jonggol hingga Bekasi udah berdesakan didalam pikiran penulis. Malah rencananya mau bikin perkampugan jin. Ambooy!! Tolong hamba ya Allah. Jangan Baim mulu.
Disiang selasa 14 April 2015, penulis pulang dan langsung banting diri di semak-semak. Bobo siang katanya. Bangun saat ashar. *anggap saja sipenulis udah solat yah*. Iya dalam hati emang rencananya mau belajar. Iya, buku emang ada didepan mata. Tapi mata masih ajha tertuju ke hp. Nungguin sms si Kebo. Sesak rasanya napas paru-paru kalau gak ada kabar Kebo. Gilaa! *ButThisIsTheFact.  Tapi sebenarnya penulis belajar juga sih. Alhamdulillah dalam 2 jam belajar sambil smsan itu penulis bisa ngerjain 2soal dengan 1 soal salah. Hahaha *payah
Hingga mentari mulai tak kuat untuk bertahan hingga tenggelam di ufuk barat dengan membuat merah-merah dilangit seolah-olah dia berdarah, penulis masuk kamar. Rencananya mau belajar, eh tau-taunya malah ngambil laptop *NotebookSih buat nulis curahan hatinya. *tragiss.
Biarlah. Mungkin bila adzan Isya berkumandang. Penulis bakal belajar. Lagian konsep udah siap kok. Jadi gak perlu takut-takut amat. *kepedeanLu. Hati kecil bertanya. Apa dengan begini Tuhan akan mendengar setiap doa yang aku serukan? Apa Tuhan akan memberi petunjuk kepada orang seperti ini? Apa Tuhan akan benar-benar menghargai atas apa yang saya lakukan? Ohh God, ampuni hamba-Mu yang pemalas ini. Ini semua bo’ongan kok. L L

Note :

“jangan tiru adegan ini. Hanya dilakukan oleh professional pemalas J

The First War

Detak jantung ini berdetak kencang. Tangan penuh keringat. Mulut tak hentinya memanjatkan doa. Frontal 3GB ini mencoba kembali mengingat materi-materi yang mungkin akan diujiankan. Sampai saat kaki kurusku menginjak ruangan tempatku menguji otakku, aku masih tak percaya bahwa kini aku akan menghadapi ujian terakhirku di bangku SMA. *TheLieStory *hahaha

Hari penentuan tiba. Ini hari pertama dan aku siap untuk bertempur. Bahasa Indonesia dan Kimia. Mata pelajaran yang sama-sama bikin ngantuk. Jadi malas. Entah mengapa, walaupun aku sadar aku tengah berada disuasana ujian, aku tetap saja santai. Tanpa beban. Keep slow. Hahaha. Ayolah In, sadarlah. Ini UN. Semangatlah!! “IYAAA BAWEEL.”  *namparMukaSendiri.

Tiba sekolah, teman-teman udah pada kumpul kebo. Tau deh bahas apaan. Mendekat ah! Semuanya pada sibuk ngurusin strategi untuk bisa kerjasama dan mencari teman yang mungkin sepaket. Semua pada megang smartphone. Niat banget buat nyontek. Dan aku pun tak mau kalah. Meski dengan handphone communicater. Hahaha *payaah

07:30. Masuk kelas. Yaelaah. Suasananya sama aja. Pada ngatur strategi. Ku coba mendekat untuk bisa mendapat pengarahan sedikit. Siapatau, aku bisa dapat kuncijawaban. Hahaha. Dan benar saja. The BigMama lagi mengarahkan teman-teman lain cara mengetahui paket dan akan dikirimkan kuncinya. Ajaib. Tapi saying. Selama dijelaskan, aku gak ngerti-ngerti. Ini karena otakku memang bego atau karena dia jelasinnya kurang ajib yah? Pusing pala ayam. Yaudahlah. Aku pergi. Asik sendiri.
JREENGG… Sahabat gendutku dating. Menghampiriku lalu memberikan smartphone punya si Kebo. Kaget sih. Tapi senang juga. Akhirnya bisa juga dapat kunci jawaban nanti. Hahaha *ThanksKeboJelek. And this is it. Bel berbunyi. Dua pengawas masuk. Yang satu cantik yang satu sok cantik dan rada tua sih. Mukanya terlihat serem. Oh Tuhaan, ujian tahap satuku akan terlihat horror. *BRWH.
Mulai bertempur. Berdoa and 1 2 3 mulaii. Dalam 5menit aku selesai. Hahaha iya aku emang udah selesai. Mengisi biodata.
Ujian ini berjalan hikmat dan tenang. Sedikit terdengar bisikan, itu karena teman-teman pada sibuk nyari teman yg sepaket. Dan tinggallah aku sendiri duduk dongo gak tau mesti gimana cara liat paket. *RasainLoeIn. Tapi karena Tuhan mendengar pinta hamba-Nya yang lemah, maka dengan kekuatan jaringan dan Line, akhirnya aku mendapatkan kunci jawaban. Hahaha. Thanks God.
Ujian kali ini terasa lancer dan mudah atas kunci jawaban dan juga pertolongan Tuhan J


“pesan penulis. Jangan pernah sekali-kali cuek sama sesuatu yang memang sangat penting. Terutama sesuatu yg berhubungan dengan contekan dan siasat untuk mendapatkan kunci jawaban. ITU!!”